Dino Patti Djalal Hampir Menangis Gara-gara American Batik

Dino Patti Djalal Hampir Menangis Gara-gara American Batik

- detikNews
Selasa, 08 Nov 2011 17:44 WIB
Dino Patti Djalal Hampir Menangis Gara-gara American Batik
Jakarta - Dubes RI untuk AS Dino Patti Djalal yang biasa tegar kini dibuat hampir menangis. Ini gara-gara American Batik Design Competition yang ia gelar sejak April dan akan berakhir Selasa (8/11/2011) besok.

"Saya sempat agak deg-degan kalau-kalau desain batik yang dihasilkan kurang baik. Ternyata hasil desain batik yang dihasilkan peserta bagus-bagus. Saya hampir menangis. Nanti hasil desain batiknya bisa Anda lihat sendiri," kata Dino di Hotel Palace, San Francisco (SF), AS, Senin (7/11/2011) malam waktu SF.

Acara terobosan yang digelar KBRI ini telah dimulai dengan pendaftaran pada 18 April 2011 lalu. Ada seratusan peserta yang mendaftar. Semua peserta merupakan warga AS dari 18 negara bagian.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Peserta terdiri dari graphis designer dan fashion designer dari Amerika. Memang yang kami cari bukanlah desainer yang sudah terkenal," kata Dino.

Para peserta kemudian membuat desain batik dalam bentuk digital. "Kemudian desain-desain itu dinilai oleh 5 juri dari Indonesia dan Amerika," kata dia.

Saat ini sudah terpilih 9 finalis kompetisi ini. Para finalis ini memiliki filosofi-filosofi yang menarik dalam mendesain batiknya. "Rencananya besok (Selasa), 9 finalis akan diumumkan dan akan dipilih yang terbaik," kata Dino.

Pengumuman pemenang akan disampaikan dalam acara di Hotel Palace, San Francisco. Pemenang pertama terdiri dari 3 orang, pemenang kedua terdiri dari 3 orang, dan pemenang ketiga terdiri dari 3 orang. Dengan demikian, semua finalis akan mendapatkan hadiah.

Pemenang pertama akan mendapat hadiah uang US$ 5.000, pemenang kedua mendapat hadiah US$ 2.500, dan pemenang ketiga mendapat hadiah US$ 1.500. Tiga pemenang pertama juga akan diajak berkunjung ke Indonesia dan akan belajar membuat batik di Yogya dan daerah-daerah lainnya. Rencananya, kata Dino, desain terbaik akan diserahkan kepada sebuah perusahaan di Yogya untuk diproduksi.

Mengapa Dino menggelar acara American Batik? Bukankah akan bisa membuat kesan bahwa batik sudah bukan asli milik Indonesia?

Dino punya pendapat berbeda. Dengan acara ini, justru Dino ingin membuat batik mendunia. "Saat ini Unesco sudah mengakui bahwa batik adalah asli dari Indonesia. Tapi kita perlu menduniakan batik, seperti batik Jepang, batik Amerika, dan lain-lain," kata dia.

Dino yakin bahwa dengan mendunianya batik bukan berarti batik Indonesia dicuri. "Kebaikan yang kita sebarkan, tidak akan pernah hilang. Semakin banyak orang belajar batik, itu akan makin bagus," jelas dia.

Dia membandingkan dengan bahasa Inggris yang menjadi bahasa internasional. "Apakah orang Inggris marah kalau bahasanya dipakai oleh banyak negara? Kan tidak," ujar Dino membuat permisalan.

(asy/asy)


Berita Terkait