Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengatakan, kriteria penilian kualitas udara harus jelas dan tidak dilakukan sesaat saja.
"Itu harus ada pengukuran secara rutin, setelah itu baru diambil rata-ratanya. Karena para wali kota ada yang menyampaikan pertanyaan bagaimana bisa mengukur kualitas udara dengan cara sesaat," tutur Fauzi Bowo di Gedung Balaikota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (8/11/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain masalah kualitas udara, hal lain yang juga menjadi perhatian terkait pengelolan air bersih di Jakarta. Karena saat ini sungai-sungai di Jakarta banyak yang tercemar limbah.
"Saya juga sudah ingatkan para wali kota untuk mengejar semua polutan. Jadi mereka mengeluh adanya penambahan titik-titik monitoring, tapi kalau saya bilang bukan tambahan titik monitoring, kalau ditambah berarti setiap seksi bisa kita kejar, dituntut sesuai perundangan polutannya. Kita juga minta pabrik atau hunian itu memiliki water processing. Ini harus kita kejar," jelasnya.
Kepada para wali kota, Foke juga meminta peka dengan semua pekerjaan galian yang sedang dikerjakan di lingkungan mereka. Wali kota harus memantau tahapan pengerjaan, jangan sampai tidak ada kemajuan.
"Yang belum baik adalah sistem penanganan pekerjaan secara keseluruhan, ini pekerjaan yang gali beda sama yang masang. Jadi yang gali ya gali terus dia nggak tau masangnya kapan. Saya bilang ini nggak bener. Hasil galiannya juga ditaruh di pinggir jalan satu jalur hilang menambah kemacetan," kritiknya.
"Yang kaya gini masa gubernur juga yang nanganin. Seharusnya kontraktor yang seperti itu bisa di-blacklist," tandasnya.
(lia/lrn)










































