Petugas haji dari unsur tenaga musiman (temus) yaitu mahasiswa yang kuliah di Saudi, yang paham betul peta Mina, menjawab,"Mina Jadid, Pak." Akhirnya, bus pun meluncur ke perkampungan jamaah Indonesia, 7 km dari jembatan jamarat tempat lempar jumroh itu. Bukan perkara mudah mencapai Mina Jadid dengan kendaraan. Berjubelnya jamaah dari berbagai bangsa dan ras di seantero Mina membuat bus bergerak merambat. Sesekali bus direm mendadak karena ada penyeberang jalan yang tak lihat kanan kiri.
Hingga akhirnya bus berhenti di Maktab 1 Mina Jadid. Memasuki maktab itu, langsung disambut oleh pemandangan jamaah pria yang duduk-duduk lesehan di atas karpet di luar tenda. Mereka membentuk kelompok-kelompok dan ngobrol ngalor-ngidul mengisi waktu. Sedangkan kaum ibunya lebih banyak di dalam tenda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yang menjadi keluhan utama di maktab itu adalah tenda yang tak mampu menampung banyaknya jamaah. "Kapasitas tenda tak sesuai dengan jumlah jamaah," kata Edi dan Ibu Sulistyo, keduanya dari kloter JKG 5.
"Parah, kayak ikan pepes," sambung lainnya. Lalu mereka mengajak anggota DPR menjenguk tenda. "Tenda ini berisi 190 orang," imbuh yang lain.
Karena empet-empetan, banyak jamaah yang memutuskan tidur di luar tenda. "Saya mau tidur di luar saja sama suami saya," kata seorang wanita yang membawa selimut, pada Ibu Sulistyo. Wanita itu memilih tidur di luar karena dia berdampingan dengan jamaah yang sedang tak enak badan di tenda dan sulit bergerak.
Jamaah dari kloter 47 Sumedang-Kab Bandung juga banyak yang di luar tenda. "Kami di luar karena tenda nggak muat buat 100-an orang," kata mereka.
Secara terpisah, Kabid Bimbingan Ibadah Panitia Penyelenggaraan Ibadah Haji (PPIH) Surahmat, menceritakan, sejak dia bertugas tahun 2005, luas tenda untuk jamaah haji yang disediakan otoritas Saudi untuk Indonesia tak berubah hingga 2011. Tapi pada 2005, tenda itu masih lega karena jumlah jamaah Indonesia tak sebanyak sekarang. "Jadi tidak ada pemadatan. Yang ada adalah luas tenda sama,tapi penghuninya terus bertambah setiap tahun," katanya.
Selain Indonesia, sejumlah jamaah negara di India, Pakistan dan Bangladesh juga menempati Mina Jadid.
Anggota DPR dari Gerindra, Saifuddin Donojoyo juga berbincang dengan Hidayat, ketua regu (karu) yang tergabung dalam kloter 47 Sumedang-Kab Bandung. Hidayat berdiri bersama rekan-rekannya yang bertelanjang dada. Mereka sedang mencukur gundul rambut sesama temannya. Kehadiran anggota DPR tak membuat aktivitas mereka terhenti. Hidayat dkk menyebut layanan haji sudah oke.
Saifuddin bertanya soal menu prasmanan, Hidayat dkk menjawab,"Enak. Bagus, menu Indonesia." Seorang lainnya menimpali,"Sangat puas, tadi siang ada sayur asem!" Lainnya berujar,"Bisa nambah lagi."
"Apakah antre panjang?" tanya Saifuddin. "Tidak. Servis bagus," jawab mereka.
Mina Jadid dihuni oleh maktab 1-9. Tiap maktab berisi 3.000-an orang. Jarak yang jauh dari lokasi lempar jumroh menjadi kendala. "Ke jamarat 7 km. Pulang pergi 14 km," kata Edi dari JKG 5. Belum lagi dari jamarat bersambung ke Masjidil Haram untuk tawaf ifadhoh dan sa'i kira-kira 5 km, jadi total jenderal Edi dkk harus berjalan kaki 14 km plus PP ke Masjidil Haram 10 km jadi 28 km.
Setelah sejam menjaring aspirasi, anggota DPR kembali ke tenda misi haji Indonesia, tak jauh dari terowongan Mina.
Sementara itu, terpisah, jamaah dari maktab 28, Ari S, juga mengeluhkan soal sempitnya tenda. "Kaki ketemu kaki, bahu ketemu bahu," ceritanya.
Di maktabnya, prasmanan juga antre panjang dan tidak tertib, tidak serapi saat di Arafah dulu. "Satu maktab hanya ada dua tempat makan, bayangin saja antrenya," ujarnya.
Ari mengakui, panitia berusaha memberikan yang terbaik, tapi kesadaran jamaah juga diperlukan. "Harus ada sosialisasi dari masing-masing daerah untuk menerapkan budaya antre, budaya disiplin, budaya mau belajar. Sekarang saya masih antre panjang karena ada yang tak tertib," katanya.
Ada saja jamaah yang tak kebagian makanan. Sebaliknya, banyak makanan yang terbuang. "Karena tidak habis atau tidak doyan. Sayang banget," katanya.
Di maktabnya juga banyak jamaah yang kesasar jalan. "Habis dari kamar mandi, suka salah jalan," katanya.
Tenda di Mina memiliki wujud dan warna yang seragam. Wajar bila tak mengingat-ingat medan, jamaah mudah tersesat. Menurut data misi haji, sedikitnya 400-an jamaah kesasar. Sedangkan yang tidak terdata, tentunya lebih banyak lagi.
(nrl/van)











































