"Ini kejadian kedua (hilang). Kejadian pertama tanggal 8 Oktober 2011," kata salah satu kerabat keluarga Yenni saat dihubungi detikcom, Senin (7/11/2011).
Menurutnya waktu itu, Yenni menghilang sekitar lima hari. Saat pergi, Yenny pamit kepada orangtuanya untuk berangkat bekerja di daerah Kuningan, Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat itu, Yenni mengaku berada di Semarang, Jawa Tengah. "Kita dapat telepon katanya di Semarang. Dia juga nggak tahu kenapa ada di Semarang. Terus dia dijemput," lanjutnya.
Yenni berada di Hotel Srondol Indah, Semarang. Entah bagaimana ceritanya, seluruh barang-barang Yenni yaitu dua telepon seluler, perhiasan emas, dan uang hilang.
"Saya nggak tahu berapa jumlah uangnya. Kita tanya-tanya dia juga nggak tahu. Kayak orang linglung gitu. Sama sekali nggak ingat," jelasnya.
Takut sesuatu terjadi terhadap Yenni, keluarga lantas membujuk Yenni agar melakukan visum. Namun Yenni menolaknya karena takut. Keluarga lalu berusaha mengajak Yenni ke hipnoterapis untuk mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi terhadap Yenni sehingga ia bisa sampai ke Semarang.
"Pas dia diajak visum dia sudah takut duluan. Pas ke hipnoterapis, dia histeris," katanya. Setelah kembalinya dari Semarang, Yenni terus tampak ketakutan. Ia tak mau lagi keluar rumah seorang diri.
"Sebelum dia hilang nggak ada yang mencurigakan dari dia. Setelah kejadian, dia ya nggak mau lagi ke luar rumah sendiri karena takut. Makanya kita heran dia hilang lagi gini," ungkapnya.
Ia menceritakan saat meninggalkan rumah untuk yang kedua kalinya tanggal 18 Oktober, Yenni mengenakan celana jeans hitam dan baju merah dibalut cardigan hitam.
"Ciri-cirinya tinggi sekitar 155 cm, beratnya kurang lebih 70 kg, kulit sawo matang, rambut hitam lurus panjang sepinggang. Ada tahi lalat di bawah mata sebelah kiri. Dia pakai kacamata," ucapnya.
(gus/ken)










































