Patroli Terkoordinasi Selat Malaka Diresmikan 20 Juli
Rabu, 14 Jul 2004 18:02 WIB
Jakarta -
Patroli terkoordinasi antara Indonesia, Singapura, dan Malaysia untuk mengamankan Selat Malaka akan diresmikan Selasa, 20 Juli 2004."Jadi tidak benar Amerika akan ikut dalam pengamanan tersebut," kata Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto usai Rakor Polkam di Kantor Menko Polkam jalan Medan Merdeka Barat Jakarta Pusat, Rabu (14/7/2004).Dituturkan dia, Indonesia keberatan dengan kehadiran AS di Selat Malaka. Untuk itu solusinya, Indonesia yang berdaulat punya hak untuk mengamankannya. Walaupun AS secara internasional punya hak, tapi Indonesia tidak ingin gratis memberikan pengamanan itu."Tapi yang jelas, mereka masih bisa memberikan kontribusi atas pengamanan di sana. Itu sudah diterima Amerika. Pihak Amerika sudah meralat, tidak benar akan melakukan pengamanan secara sendiri di sana," kata Tarto.Untuk itu, lanjut dia, ditindaklanjuti dengan pengamanan berupa peningkatan patroli terkoordinasi yang sudah berjalan saat ini. Dulu pengamanan antara Indonesia-Malaysia dan Indonesia-Singapura ternyata tidak efektif, karena dilakukan tiga tahun sekali."Saran kami, setiap patroli dari negara yang ada di Selat Malaka merupakan bagian dari patroli terkoordinasi itu. Oleh karena itu, ini akan dibagi apakah dalam satu tahun itu, misalnya bulan Januari Indonesia, Februari Singapura, Maret Malaysia, dan selanjutnya," papar Tarto.Pengamanan setiap negara patroli, jelas dia, contohnya Indonesia, dalam patroli bisa masuk wilayah Singapura dan Malaysia jika ada kapal yang dicurigai masuk ke wilayah itu. Begitu juga sebaliknya."Namun pengejaran tersebut harus dilaporkan kepada negara yang bersangkutan kalau merupakan bagian dari patroli terkoordinasi," ujar Tarto.Soal jadwalnya dan mekanismenya seperti apa, menurut dia, masih akan dibicarakan dengan Singapura, Malaysia, dan negara besar lainnya. Contohnya Jepang yang punya kepentingan dengan Selat Malaka.Kapan mulai patroli? "Selasa pekan depan akan diresmikan di Batam, di atas kapal yang dihadiri para panglima dari negara Malaysia dan Singapura. Operasi patroli terkoordinasi itu akan berlangsung satu tahun penuh," demikian Tarto.
(sss/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































