"Yang terjadi saat ini, ketika anak-anak kabur dari rumah lalu lapor polisi dan menjadikannya sebagai masalah hukum. Sebaiknya jangan karena bisa membuat trauma pada anak-anak yang berefek lebih berbahaya," kata psikolog Universitas Bina Nusantara (Ubinus), Reza Indragiri Amriel, saat berbincang dengan detikcom, Senin (7/11/2011).
"Bayangkan jika menjadi masalah hukum. Anak lebih trauma. Tekanan di rumah menjadi tinggi. Yang terjadi, anak-anak bisa lari ke narkoba, bunuh diri atau kenakalan lainnya," ungkap Reza mewanti-wanti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Banyak anak-anak yang terbuai dengan kehidupan luar rumah yang penuh dengan fantasi dan harapan. Tapi setelah kabur, ternyata sebaliknya. Tak ada tempat bernaung, cari makan susah, kejahatan mengintai dan lainnya. Akhirnya mereka kembali ke rumah. Coba kalau tetap di rumah, minimal, kalau makan tinggal ambil, lalu masuk kamar lagi," tutur Reza.
Permasalahan di atas, umumnya karena orang tua tidak bisa menjalin komunikasi dengan baik. Orang tua lebih takut dengan atasan di kantor daripada takut hubungan dengan anaknya memburuk. Ditambah, orang tua menjalin relasi dengan anaknya secara vertikal, bukan sebagai teman atau bersifat horizontal.
"Anak seusia tersebut sedang dalam proses pertumbuhan dengan mencari teman sebaya. Tidak mau ada hubungan vertikal. Solusinya, hadapi anak layaknya teman mereka," tuntas Reza.
(asp/rdf)











































