"Saya harus kuat, karena itu harus dilewati dan dijalani," cerita Malinda saat ditemui di Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur, Minggu (6/11/2011).
Malinda baru satu bulan mendekam di dalam sel Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Selama satu bulan itu pula dia mengaku belum mengikuti segala aktivitas di rutan karena harus fokus untuk persidangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak dipindah dari Rutan Bareskrim ke Rutan Pondok Bambu, Malinda juga merasa banyak perubahan dalam hidupnya. Dia menjadi lebih iklas dan sabar menghadapi masalah yang menderanya.
"Dulu waktu di Bareskrim pertama kali, saya itu sering banget nangis. Sekarang saya malah nggak sempat mikir mau nangis di sini, karena melihat kondisi teman-teman di sini, yang harus saya suport juga," katanya.
"Maka buat persiapan besok, saya hanya terus berdoa dan minta didoakan," tambahnya.
Selama di tahanan ia juga mengaku lebih religius. Padahal kondisi itu menurutnya sangat susah dilakukan saat menjadi wanita karier yang memiliki yang cukup padat.
"Dulu sibuk di kantor dan pikirannya dunia, sampai nggak sempat ngaji. Setelah di sini ada waktu luang, akhirnya saya bisa ngaji bahkan menghafal seperti surat Yassin sekarang di luar kepala. Jadi ya luar biasalah, keadaan ini membawa hikmah besar," kata Malinda yang mengenakan kaos dan celana hitam, dibalut cardigan panjang berwarna coklat.
Tak banyak harapan Malinda atas sidang tuntutannya nanti. Wanita berdarah Aceh ini hanya meminta diberikan hukuman yang seringan-ringannya.
"Besok (sidang) itu perjuangan akhir, tinggal selangkah lagi. Saya minta doanya, biar sidangnya cepat selesai dan dihukum seringan-ringan, karena kan nggak mungkin juga saya bebas murni," harapnya.
Malinda memang terlihat lebih segar saat dikunjungi, walaupun baru menjalani operasi beberapa waktu lalu.
(lia/lh)











































