Seperti dilaporkan Radio Nederland Wereldomroep berbahasa Indonesia pada 4 November 2011, Boon dalam waktu dekat ini akan memulai proyek pencarian calon teroris di Indonesia. Selanjutnya para calon teroris itu akan dipertemukan dengan korban teror. Boon berharap, dengan langkah tersebut, dia dapat berkontribusi memperbaiki dunia.
Pria 39 tahun itu berharap, kegiatan itu dapat dimulai pada pergantian tahun nanti. Bagaimanapun, kegiatan tersebut baru akan dilakukan jika Boon menyelesaikan proses revalidasi di Pusat Revalidasi Militer, di Doorn, Belanda. Revalidasi adalah upaya membuat penderita pulih lagi baik dari aspek medis maupun sosial.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nantinya seorang korban terorisme, seorang teroris yang sudah berubah pikiran dan seorang pemuka agama akan diajak ke daerah yang dianggap rawan pengaruh gerakan teror. Satu per satu akan diminta menceritakan pengalamannya masing-masing.
Boon yang pernah menjadi seorang konsultan di Indonesia ini akan menyusun database korban teror sebagai langkah awal kegiatan. Kemudian dipilih orang-orang yang mampu menceritakan pengalamannya dengan baik dan meyakinkan. Bimbingan dan bantuan psikolog akan dilibatkan dalam kegiatan itu mengingat keterlibatan mereka dalam kegiatan ini bukanlah pekerjaan mudah.
Korban terorisme yang akan diajak bekerja sama diutamakan orang Indonesia. Pertimbangannya, bagi calon teroris yang berasal dari Indonesia, kisah korban yang sama-sama orang Indonesia akan lebih menyentuh, ketimbang korban yang berasal dari negara lain.
Dia mendapat informasi beberapa orang yang pernah terlibat aksi teror telah insyaf. Bahkan beberapa dari mereka bekerja sama dengan pemerintah Indonesia dan terlibat dalam kegiatan deradikalisasi.
"Korban, mantan teroris, dan pemuka agama berkunjung ke tempat-tempat yag dianggap rawan dan lahan subur bagi perekrutan tenaga pelaksana radikalisme kekerasan. Misalnya, madrasah, sekolah agama atau pesantren. Tapi juga sekolah umum biasa, atau organisasi lokal," ujar Boon memaparkan rencananya.
Kemudian, anggota rombongan akan menceritakan pengalaman mereka masing-masing. Pemuka agama yang hadir nantinya diminta memimpin diskusi yang berkaitan dengan teologi.
"Dengan demikian, orang-orang yang cenderung mudah terpengaruh oleh berbagai pemikiran radikal, akan berhadapan langsung dengan dampak pemikiran abstrak mengenai serangan. Bahwa ledakan bom membuat orang sengsara, dan menyebar kebencian," sambungnya.
Yang menjadi sasaran 'buruan' Boon adalah orang-orang seperti pelaku pengeboman di Hotel Marriott. Dia mengindikasi, pelakunya adalah remaja yang rentan dipengaruhi dan berasal dari lingkungan keluarga serba kekurangan.
Remaja seperti itu kemudian bertemu dengan orang yang mencuci otak mereka dan membujuknya untuk melakukan teror. "Remaja putra atau putri seperti itu menghadapi masa depan yang sama sekali tidak jelas. Dengan demikian, mereka gampang dipengaruhi oleh orang-orang dengan pemikiran penuh tindak kekerasan. Kami berharap bisa menemui remaja seperti itu, dan menyelamatkan mereka, dari nasib seperti yang dialami oleh pelaku serangan di hotel tempat saya menginap," papar Boon.
Rencananya, proyek ini akan digarap selama setahun. Sebagian dana yang dibutuhkan disediakan pemerintah Indonesia, sehingga harus dicari sponsor untuk menalangi sisa dana yang dibutuhkan. Selanjutnya, akan dibangun LSM yang akan meneruskan kegiatan itu.
Bom di Hotel Ritz Carlton dan JW Mariott meledak pada 17 Juli 2009. 9 Orang tewas dan tak kurang dari 50 orang mengalami luka-luka.
(vit/mad)











































