Beberapa hal menyebabkan pemulangan jamaah haji dari Arab Saudi ke tanah air kerap terlambat. Walaupun tak mungkin terhindarkan, tahun ini Garuda Indonesia yakin, tingkat keterlambatan tersebut bisa turun.
Dijelaskan Kepala Dinas Urusan Haji & Umroh Garuda Indonesia, Hady Syahrean, selama ini ada tiga faktor besar yang kerap membuat jadwal penerbangan dari Arab ke Indonesia molor.Β
Pertama, tidak sebandingnya jumlah gate di bandara King Abdul Aziz di Jeddah dengan frekuensi penerbangan dan jumlah calon penumpang. Kedua, kedisiplinan jamaah; dan ketiga, minimnya armada bus di bandara yang mengangkut penumpang ke pesawat.
"Di East Terminal (di Bandara King Abdul Aziz) hanya ada 13 gate, sementara jumlah calon penumpang dan penerbangan sangat banyak. Akibatnya, jika terjadi satu delay saja, apalagi lebih dari empat jam, akan ada efek domino keterlambatan untuk jadwal berikutnya. Itu tidak bisa dihindari dan berlaku untuk seluruh penerbangan," ujar Hady kepada sejumlah wartawan termasuk detikcom di Jeddah, Arab Saudi, Jumat (4/11/2011).
Mengenai kedisiplinan calon penumpang, 'penyakit' utama jamaah haji asal Indonesia adalah kebiasaan membawa barang bawaan yang melanggar ketentuan, seperti membawa gunting, pisau, dan lain-lain, serta melebihi berat maksimal yang diperbolehkan.
"Ini menjadi hambatan untuk bisa masuk gate, karena petugas bisa menyuruh mereka membongkar lagi barang bawaan mereka, dan itu memakan waktu yang tidak sedikit. Petugas bandara tidak mau tahu, karena peraturannya memang demikian," terang Hady.
"Ketiga, bus bandara yang membawa penumpang dari gate ke pesawat terbatas. Setahu kami, hanya ada delapan unit bus di King Abdul Aziz, sementara mereka harus mengangkut begitu banyak calon penumpang. Alhasil, kita sering menunggu lama sampai bus datang menjemput."
Untuk faktor pertama, tahun ini Garuda Indonesia telah memperoleh gate khusus di West Terminal. Ada dua gate di terminal tersebut, yakni Gate 22 dan 23. Khusus Gate 22 hanya untuk seluruh penerbangan Garuda, alias tidak dipakai maskapai lain. Gate 23, walaupun telah dipesan oleh sebuah maspakai lokal, masih bisa dipergunakan Garuda apabila sedang kosong.
"Selama ini OTP (On Time Performance) kedatangan di atas 95 persen. Tahun ini, ditambah pula dengan performa pesawat yang cukup baik, Alhamdulillah, mencapai 97,5 persen," beber Hady lagi.
"Untuk OTP kepulangan, tahun-tahun sebelumnya cuma sekitar 40 persen. Tahun ini, dengan adanya West Terminal, kita tetap akan melihat situasi. Tapi 60% saja sudah baik. Target kami, insyaallah, 70 persen. Buat kami itu sudah sangat bagus," sambungnya.
Ia menambahkan, walaupun sudah ada terminal khusus untuk penerbangan Indonesia, pihak Garuda tetap belum bisa memberi jaminan ketiadaan keterlambatan pemulangan jamaah haji.
"Masih ada hambatan yang kritis, yaitu bus bandara untuk mengangkut penumpang ke pesawat. Tapi , dengan adanya terminal baru ini, keterlambatan pemulangan mudah-mudahan bisa dipersempit, dan jamaah bisa lebih nyaman."
Diceritakan Hady, dengan segala hambatan yang ada, di tahun-tahun sebelumnya keterlambatan penerbangan pulang bisa 10-12 jam. Dengan adanya West Terminal, diharapkan keterlambatan itu berkurang signifikan.
"Kami tidak mau muluk-muluk dengan mengatakan tidak akan terlambat, karena masih ada kendala soal bus di bandara. Kalau datangnya tidak terlalu lama, mungkin masih delay 3-4 jam, tapi kita bisa menekan 6-7 jam," imbuh Hady.
Garuda tahun ini mengangkut 113.361 jamaah haji asal Indonesia, yang dibagi ke dalam 299 kloter dari sembilan embarkasi. Untuk kepulangan dari Arab Saudi, rencananya ada 11 flight per hari, dimulai dari ONH Plus pada 10 November. Sedangkan untuk jamaah haji reguler, kepulangan kloter awal adalah pada 11 November.
(a2s/asy)











































