SPMB Rayon 2 Turun 11,2%
Rabu, 14 Jul 2004 13:35 WIB
Solo - Minat lulusan SLTA mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) semakin menurun tiap tahunnya. Di Rayon 2, misalnya, penurunan mencapai 11,2 persen dari peminat tahun lalu.Padahal tahun lalu juga menurun 16 persen dibanding tahun sebelumnya. Tahun ini, Yogyakarta dan Solo mengalami penurunan paling banyak.Hal tersebut diungkap oleh Ketua Rayon 2 SPMB Prof Dr Eko Budiardjo kepada wartawan saat meninjau pelaksanaan ujian tulis SPMB di Solo, Rabu (14/7/2004). Rayon 2 meliputi tujuh kota di Jawa dan Kalimantan yakni Semarang, Solo, Yogyakarta, Purwokerto, Banjarmasin, Samarinda, dan Palangkaraya.Kecuali Palangkaraya, semua kota di Rayon 2 mengalami penurunan peminat SPMB. Angka penurunan tertinggi terjadi di Yogyakarta yang mencapai 25 persen, disusul Solo 9,5 persen. "Palangkaraya justru mengalami kenaikan 16 persen. Tapi kalau dilihat jumlahnya tidak seberapa karena peminat di sana memang sedikit. Tahun lalu sejumlah 534 peserta, sekarang menjadi 620 peserta," papar Eko.Tahun lalu peminat SPMB di Rayon 2 mencapai 65.475 peserta, sedangkan tahun ini sejumlah 58.126 atau menurun 11,2 persen. Perinciannya adalah Semarang dari 16.231 menjadi 15.660 (turun 3,4 persen), Solo dari 14.270 menjadi 12.955 (turun 9,5 persen), Yogyakarta dari 20.890 menjadi 16.065 (turun 25 persen), Purwokerto dari 6.102 menjadi 5.922 (turun 3 persen).Di Banjarmasin, dari 3.460 menjadi 3.145 (turun 9 persen), Samarinda dari 3.880 menjadi 3.759 (turun 4 persen), sedangkan Palangkaraya naik 16 persen dari 534 menjadi 620 peserta. "Penurunan sangat tinggi di Yogyakarta mungkin disebabkan kerena UGM jauh sebelumnya telah melakukan penerimaan mahasiswa tersendiri baru sebelum SPMB," ujar Eko.Adanya tren yang semakin menurun, menurut Rektor Undip tersebut, dimungkinkan karena banyak lulusan SLTA dari keluarga mampu lebih memilih belajar di luar negri. Sedangkan lulusan dari keluarga ekonomi menengah ke bawah memilih mengambil kuliah di diploma ilmu terapan atau bahkan bekerja setelah lulus sekolah.KerjaPenjelasan Eko tersebut dikuatkan oleh Rektor UNS, Syamsulhadi. Menurut Syamsul saat ini banyak orang tua maupun lulusan SLTA yang menyadari sulitnya mencari pekerjaan bagi sarjana. Data yang didapatkannya dari Depkaner menyebutkan bahwa kesempatan kerja di tanah air saat ini adalah perbandingannya 6 untuk SLTA, 3 untuk D-3, dan hanya 1 untuk sarjana."Rupanya kesulitan-kesulitan tersebut disadari baik oleh orangtua maupun para lulusan. Mereka menganggap rugi jika biaya kuliah yang mahal nantinya hanya akan menganggur. Bahkan, maaf saja, tidak sedikit pula lulusan SLTA yang akhirnya memutuskan untuk menjadi TKI atau TKW. Inilah kenyataan yang kita hadapi. Kita tidak bisa memberikan bantan memadai bagi mereka," paparnya.Karenanya baik Eko maupun Syamsul berharap presiden terpilih mendatang lebih bisa memperhatikan persoalan pendidikan. "Presiden baru nanti harus taat pada Undang Undang yang berlaku, yakni memberikan anggaran 20 persen kepada sektor pendidikan. Sekarang ini sangat jauh dari angka itu. Padahal masalah pendidikan adalah masalah masa depan bangsa," ujar Eko Budiardjo.
(nrl/)











































