5 Jembatan Hanyut Diterjang Lahar Dingin, Warga Magelang Kesulitan Menyeberang

5 Jembatan Hanyut Diterjang Lahar Dingin, Warga Magelang Kesulitan Menyeberang

- detikNews
Jumat, 04 Nov 2011 09:30 WIB
5 Jembatan Hanyut Diterjang Lahar Dingin, Warga Magelang Kesulitan Menyeberang
Magelang - Pasca diterjang banjir lahar dingin di empat sungai lereng Merapi, warga di wilayah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah Jumat (04/11/2011) kesulitan saat melakukan aktifitas.

Aktifitas itu seperti aktifitas berangkat sekolah, bekerja dan lainnya. Hal itu terjadi karena lima jembatan darurat (jembatan sesek) yang ada di tiga alur sungai; Kali Pabelan dan Kali Putih hanyut diterjang banjir lahar dingin.

Lima jembatan itu adalah Jembatan Tlatar, Jembatan Gondosuli, Jembatan menayu, Jembatan Srowol dan Jembatan Adikarto.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahkan, karena pentingnya aktifitas mereka lakukan banyak warga yang nekat dengan berbagai cara menyeberangi sungai. Baik dengan cara mencopot sepatu dan sandal mereka sampai diantar dan digendong supaya bisa menyeberangi dua aliran sungai.

Eva (18) pelajar SMK Negeri Pertanian 1 Salam saat ditemui detikcom berangkat sekolah menyatakan dirinya nekat untuk menyeberangi sungai dengan digendong bapaknya Sumadi. Sebagai pelajar dirinya sadar bahwa kewajibanya adalah belajar. Kewajiban itu harus dia penuhi dan lakukan supaya tidak ketinggalan pelajaran.

“Mau bagaimana lagi mas, mau tidak mau saya harus nekat menyeberangi sungai. Daripada tidak sekolah bisa ketinggalan pelajaran,” ujar Eva usai menyeberangi sungai Kali Putih di Dusun Klumpukan, Desa Seloboro, Kecamatan Salam selebar kurang lebih 20 meter.

Sumadi (49) ayah Eva menyatakan dirinya rela menggendong anaknya untuk menyeberangi sungai demi keberlangsungan pendidikan anaknya yang pertama itu. Sebab, jika tidak bersekolah maka anaknya bisa kesulitan mengikuti pelajaran.

Selain Eva, banyak pelajar lain mulai dari pelajar Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah menengah Umum (SMU) yang akan berangkat sekolah dengan berbagai cara. Mereka harus rela melepas sepatu dan kaos kaki mereka untuk menyeberangi alur Kali Putih.

Lain lagi dengan Mbah Sutinah (70) nenek yang sehari-hari berdagang di Pasar Srumbung ini harus rela dan nekat membawa daganganya mengendong tas besar sambil menyeberang.

Bagi Mbah Sutinah, berdagang untuk memenuhi kebutuhanya sehari-hari sebab dirinya hidup sebatang kara di hunian sementara (huntara) atau pengungsian.

“Mau bagaimana lagi mas. Sudah jadi kebiasan saya sehari-hari. Kalau saya tidak pergi ke pasar saya akan susah makan. Pripun maleh mas. Nggih kudu nekat (Mau bagaimana lagi. Ya harus nekat),” tukas Mbah Sutinah.

Selain Eva dan Mbah Sutinah masih banyak warga lain yang nekat dan memberanikan diri untuk menyebrangi Kali Putih dan Kali Pabelan. Paling tidak, banjir lahar dingin yang menerjang dua dari empat sungai yaitu Kali Putih dan Kali Pabelan berpengaruh besar terhadap kebidupan sehari-hari ribuan warga yang berada di bantaran sungai.

Dari pantauan detikcom, banyak warga yang terpaksa memutar jalur dan balik kanan saat melakukan aktifitas sehari-hari. Rata-rata mereka selain menggunakan sepedamotor yang tidak biasa melewati sungai juga tidak berani menyeberang Kali Putih dan Kali Pabelan usai banjir lahar dingin yang sempat menutup jalan raya Magelang-Yogya Kamis(03/11/2011) sore kemarin.

(fjp/fjp)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini