Setelah merampungkan 299 kloter dari tanah air ke Arab Saudi pada 31 Oktober lalu, Garuda langsung mempersiapkan diri untuk melayani kepulangan jamaah. Sebanyak 130 orang sudah berada di Jeddah dan Medinah untuk stand by.
“Seluruh petugas kami siap bekerja di enam titik, dari mulai titik check in, bagasi, sampai pembuatan boarding pass di terminal bandara,” papar Kepala Dinas Urusan Haji Garuda Indonesia, Hady Syahrean, di Jeddah, Jumat (4/11/2011).
Potensi keterlambatan (delay) penerbangan menjadi hal yang paling diantisipasi, karena situasi tersebut hampir tidak mungkin dihindari. Hotel transit sampai urusan makanan (catering), telah direncanakan jauh-jauh hari.
“Kita bekerja sama dengan hotel-hotel transit yang disewa Departemen Agama. Misalnya, ada kloter yang akan delay 6-8 jam, maka kita akan langsung membawa jamaah ke hotel transit, supaya tidak bolak-balik lagi ke bandara. Di hotel tersebut sudah disiapkan pula catering,” lanjut Hady.
“Tapi kalau potensi delay hanya 4 jam, kemungkinan besar jamaah tidak perlu transit, takut waktunya tidak cukup untuk bolak-balik bandara-hotel-bandara.
Soal catering, tambah Hady, pihak Garuda sudah mengorder rekanan mereka di bandara King Abdul Aziz untuk siap tiga jam sebelum diberikan kepada jamaah yang menunggu pesawat berangkat.
“Jika ada yang tidak mau transit dan lebih memilih menunggu lama di bandara, kami akan meminta mereka untuk membuat surat pernyataan, diketahui dan disetujui oleh ketua kloter mereka. Kami tidak mau dipandang menelantarkan calon penumpang,” tegas Hady.
Garuda juga akan menginformasikan setiap keterlambatan penerbangan melalui website mereka, sehingga keluarga yang menunggu di tanah air bisa mengetahui kapan pesawat yang ditunggu akan tiba di Indonesia.
“Komitmen kami adalah selalu transparan. Kalau ada delay, kami antisipasi, jamaah kita kasih makan, dan sebagainya,” imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Haji tahun ini akan ditandai dengan pelaksanaan wukuf di Arafah pada hari Sabtu (5/11) besok, diikuti sekitar 2,5 juta orang dari seluruh dunia. Indonesia paling banyak mengirim jamaah, sebanyak 221 ribu orang.
==
(a2s/fjp)










































