Presiden Buka Kongres Biofarmaka di Yogyakarta

Presiden Buka Kongres Biofarmaka di Yogyakarta

- detikNews
Rabu, 14 Jul 2004 13:19 WIB
Yogyakarta - Presiden Megawati pukul 14.30 WIB, Rabu (14/7/2004) akan membuka Indonesian Biopharmaca Exhibition & Congress (IBEC 2004) di Yogyakarta.Kongres dan pameran Biofarmaka Indonesia itu digelar di Pagelaran Kraton Yogyakarta. Kegiatan itu rencananya akan diikuti oleh ratusan pakar tanaman tanaman obat, produsen tanaman obat, industri/pengolahan tanaman obat dan masyarakat/konsumen.Ketua Paniti Daerah IBEC 2004 Asyantini kepada detikcom di Pagelaran Kraton Yogyakarta mengatakan, acara tersebut rencananya berlangsung hari ini hingga Minggu (18/7). Rincian kegiatannya antara lain pameran dan seminar/worshop mengenai tanaman-tanaman obat-obatan yang dihadiri pakar biofarmaka, produsen dan industri tanaman obat.Kegiatan ini dimaksudkan untuk menggali dan menyosialisasikan kepada masyarakat luas tentang potensi tanaman obat di Indonesia yang telah digunakan sejak lama. "Kita ingin agar tanaman obat/biofarmaka lebih dikenal dan memasyarakat penggunaannya di Indonesia," katanya.Turut hadir dalam cara ini di antaranya Drs Sampurna, Ketua Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM) Departeman Kesehatan RI, Dr Charls Saerang dari perusahaan jamu Ny Meneer dan Dr Martha Tilaar daru PT Martina Bertho.Sedangan dalam seminar/workshop tanaman obat di antaranya akan dihadiri Menteri Pertanian Bungaran Saragih, Dr Syed Kamaruddin Syed Wazin dari Malaysian Herbal Coorporation, dan Prof Dr Latifah D. Kadarusman, pakar tentang standar mutu tanaman biofarmaka.TerkayaBidang Bina Produksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Departemen Pertanian DIY Fathurahman menambahkan, Indonesia adalah negara terkaya di dunia dalam hal keanekaragaman tumbuhan obat. Sedikitnya terdapat 7 ribu jenis tanaman obat, namun baru sekitar 465 jenis saja yang sudah terdaftar untuk industri obat.Dari segi bisnis, tumbuhan obat sebagai bahan baku obat-obatan alternatif sangat menjanjikan karena pangsa pasar yang cukup luas dan masih terbuka lebar. Selain untuk digunakan sebagai obat, tanaman obat-obatan juga digunakan untuk suplemen makanan diet yang angat diminati di berbagai negara seperti Cina, Korea, Jepang, Malaysia dan Taiwan.Meski merupakan negara terkaya, namun industri tanaman obat-obatan di Indonesia masih harus mendatangkan bahan baku dari luar. "Indonesia sangat cocok untuk tumbuhan berbagai tanaman obat, namun para petani masih belum mampu memenuhi kriteria dan standar yang patok oleh industri obat," kata Fathur."Omzetnya bisa mencapai 43 miliar dolar sedangkan omzet penjualan obat-obatan jenis ini di Indonesia baru mencapai Rp 2 triliun per tahun dan masih harus ditingkatkan," sambungnya. (nrl/)


Berita Terkait