Wartawan The Jakarta Post Nyaris Diamuk Massa
Rabu, 14 Jul 2004 13:09 WIB
Purworejo - Nasib apes dialami Slamet Susanto (27), wartawan The Jakarta Post. Maksud hati hendak membantu warga yang kesulitan biaya pendidikan, eh dia justru nyaris diamuk massa. Penyebabnya, dia dituduh sebagai wartawan gadungan yang hendak memeras.Peristiwa sial yang menimpa Slamet itu terjadi Selasa (13/7/2004) malam di Desa Ngandong Kecamatan Butuh Kabupaten Purworejo. Dia sempat diamankan petugas kepolisian setempat hingga Rabu (14/7/2004).Kepada wartawan di Polsek Butuh, Slamet menceritakan insiden yang menimpa dirinya. Cerita dimulai dari beritanya yang dimuat di harian The Jakarta Post Senin (12/7/2004) lalu mengenai nasib seorang siswa lulusan SMUN 7 Purworejo yang diterima tanpa tes di ITB bernama Sugiarto. Namun karena tidak ada biaya dan orangtuanya termasuk keluarga tidak mampu, Sugiarto terpaksa tidak mendaftar ulang di ITB.Pada Selasa siang kemarin, Slamet mendapat tugas dari redakturnya di Jakarta agar menyampaikan berita bahwa ada seorang pengusaha Jakarta setelah membaca berita itu ingin membantu biaya pendidikan Sugiarto yang tinggal di Desa Ngandong, sekitar 20 kilometer arah barat kota Purworejo.Pada Selasa pukul 18.00 WIB di tengah gerimis, dengan diantartukang ojek, Slamet menemui Maedi, orangtua Sugiarto, untuk memberitahukan berita itu.Slamet ditemui oleh Maedi dan istrinya dan seorang tetangganya. Dari pembicaraan tersebut, Maedi mengaku kebingungan karena saat ini anak bungsunya seminggu lalu telah ikut salah satu kakaknya di Bandung untuk mencari pekerjaan. Namun Maedi tidak pernah kontak dan tidak mempunyai alamat anaknya.Padahal orangtua Sugiarto itu diberi batas waktu untuk menyatakan "ya atu tidak" sampai hari Rabu ini pukul 09.00 WIB. Bila tidak dijawab, maka bantuan dari pengusaha itu dianggap hangus.Pertemuan dengan Maedi itu adalah pertemuan yang kedua kalinya setelah pada hari Sabtu (10/7/2004) dia telah mewawancarainya. Wawancara dilakukan di pinggir sawah, disaksikan dua orang petani yang ikut nimbrung. Dari pembicaraan itu terungkap Maedi benar-benar keluarga tidak mampu dan hidup sehari-harinya dariburuh tani di sawah.EmosiLima belas menit berada di rumah Maedi, datanglah belasan warga dengan wajah emosi,. Mereka datang bersama tiga anggota Polsek Butuh yang hendak menanyai kedatangan Slamet. Polisi itu datang setelah mendapat telepon dari seorang warga yang sampai sekarang belum diketahui namanya.Warga itu memberitahukan bahwa ada seorang wartawan yang datang ke rumah Maedi hendak meminta uang sebesar Rp 10 juta.Karena merasa tidak melakukan hal yang dituduhkan, Slamet sempat tersinggung dan marah-marah atas tindakan polisi tersebut. Bahkan beberapa kartu identitas wartawan dan kartu nama dari kantor ditunjukkannya. Tetapi warga dan polisi tidak mempercayainya.Seorang warga bernama Sugeng sempat marah-marah sambil hendak memukul Slamet. Dia tetap marah ketika melakukan hubungan telepon lewat handphone milik Slamet dengan redaktur The Jakart Post bernama Nafik dan Aan. Sugeng tetap tidak mempercayai dan memarahi Nafik maupun Aan."Saya juga pernah tnggal di Jakarta dan kenal semua wartawan di daerah Palmerah terutama di Kompas dan bisa saja telepon itu bohong saja," kata Slamet menirukan ucapan Sugeng dengan gaya pongahnya.DiamankanKarena situasi yang tidak menguntungkan itu, Slamet pun dibawa ke Polsek agar aman. Namun ketika berjalan dan tiba di pintu rumah Maedi, dia sempat didorong oleh warga yang marah dengan membawa pentungan. Malam itu hingga Rabu pagi ini pun Slamet terpaksa menginap di Polsek dengan ditemani beberapa orang wartawan dari Yogyakarta dan Purworejo.Rabu siang Slamet kemudian dipertemukan dengan tokoh masyarakat sebagai perwakilan warga bersama Maedi disaksikan aparat Polsek Butuh untuk klarifikasi mengenai kasus tersebut. Diduga kasus yang dialami Slamet itu karena ada warga yang merasa iri dengan keluarga Maedi. Sebab, Sugiarto yang dari keluarga tidak mampu tapi pandai itu justru diterima tanpa tes di ITB.Tetangga Maedi yang jauh lebih mampu tapi tidak diterima ditengari iri dan kemudian menyebarkan isu Slamet hendak memeras warga. Hingga saat ini Polsek Butuh masih menyelidiki kasus tersebut.
(nrl/)











































