Sepanjang Januari-Oktober, angka kecelakaan tertinggi berada di Koridor III (Kalideres-Pasar Baru) sebanyak 19 angka kecelakaan, menyusul Koridor V (Ancol-Kampung Melayu) sebanyak 15 angka, Koridor I (Blok M-Kota) 15 angka, Koridor VIII (Lebak Bulus-Harmoni) sebanyak 13 kecelakaan, Koridor IX (Pinang Ranti-Pluit) sebanyak 10 kecelakaan.
Koridor VI (Ragunan-Dukuh Atas 2) dan Koridor VII (Kampung Rambutan-Kampung Melayu) masing-masing 8 angka Kecelakaan, Koridor II (Pulogadung-Harmoni) 7 kecelakaan, dan Koridor X (PGC-Tanjung Priok) dan Koridor IV (Pulogadung-Dukuh Atas 2) masing-masing 3 angka Kecelakaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian LRN (Eka Sari Lorena Transport) operator Koridor V, VII, VIII, serta Feeder I dan II 9 kecelakaan, PP (Primajasa Perdanaraya Utama) operator Koridor IV dan VIII 8 kecelakaan, BMP (Bianglala Metropolitan) operator Koridor IX dan X serta TMB (Trans Mayapada Busway) operator Koridor IX masing-masing sebanyak 5 kecelakaan.
Selain itu, angka meninggal dunia yang melibatkan TransJ sebanyak 16 kasus, luka berat 22, dan luka ringan 63.
Kepala BLU, M Akbar, menyatakan selama 7 tahun beroperasi terdapat 7 busway yang terbakar. Serta kerusakan fisik akibat diamuk massa.
"Posisi kami kurang menguntungkan, biasanya masyarakar sekitar cenderung ikut-ikutan merusak bila terjadi kecelakaan. Ini perlu edukasi," tegasnya.
Di tempat sama, Ketua Institut Studi Transportasi, Darmaningtyas, mengatakan kecelakaan yang melibatkan busway tidak seharusnya melulu menyalahkan pihak TransJ. Dia mencontohkan kasus kecelakaan yang terjadi tepat di depan RS Hermina di mana penumpang bus reguler diturunkan di tengah jalur TransJ.
"Bus reguler ikut andil dalam kecelakaan tersebut," katanya.
(ahy/fjp)











































