"Tidak ada budaya baru yang dibawa Trans Jakarta, masih konvensional," kata Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi, dalam jumpa pers di Gedung Trans Jakarta-Busway (x-gedung Sudin PU Jaktim), Jl Jatinegara Barat, Kamis (3/11).
Menurutnya, akan tidak efektif bila pola konvensional, menggunakan tiket kertas, bila terus dipertahankan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menilai tidak efektifnya penggunaan tiket karcis yang masih dipertahankan operator TransJ karena dapat pola berjenjang pelaporan dan juga penumpukan pegawai.
"Di luar negeri hampir tidak ada gunakan tiket seperti ini untuk transportasi sejenis. Semestinya Trans Jakarta sudah bisa lebih moderen," ujar Tulus.
"Kalau ingin elegan tiket kertas harus ditinggalkan," imbuhnya.
Tulus mengusulkan, pengelola TransJ sudah mulai memberlakukan tiket online. Selain menggiurkan dari sisi bisnis juga tidak membutuhkan biaya mahal.
Meski saat ini TransJ telah menggunakan sistem pembelian tiket online dengan menggunakan Jakcard, namun penggunaan Jakcard terbatas karena hanya melalui Bank DKI saja.
"Tidak hanya sama bank DKI saja, kerja sama seharusnya dengan semua bank agar bisa diakses," ujar Tulus.
(ahy/fjp)











































