Pengusaha RI 'Juara' 4 Menyuap di Dunia, Metode Survei TI Dipertanyakan

Pengusaha RI 'Juara' 4 Menyuap di Dunia, Metode Survei TI Dipertanyakan

- detikNews
Kamis, 03 Nov 2011 17:48 WIB
Jakarta - Transparency International (TI) menempatkan pengusaha Indonesia sebagai pelaku bisnis yang gemar menyuap (memberikan gratifikasi/korupsi) saat berinvestasi di luar negeri. Posisi Indonesia berada di urutan ke-4 setelah pengusaha Rusia, RRC dan Meksiko. Namun metode survei TI dipertanyakan.

"Indonesia berada di urutan ke-4 dengan poin 7,1. Paling banyak oleh Rusia (6,1), RRC (6,5), dan Meksiko (7,0). Di RRC, meski ada hukuman mati, itu berlaku bila menyuap di negaranya. Kalau menyuap di negara lain, si pengusaha RRC tidak kena hukuman mati. Karena itu, ranking penyuapan di luar negeri tinggi," kata Manajer Tata Kelola Ekonomi TI Indonesia, Frenky Simanjuntak saat memaparkan hasil survei tersebut di kantornya, Jl Senayan Bawah, Jakarta Selatan, Kamis (3/11/2011).

Ranking tersebut berdasarkan pendapat 3.016 eksekutif bisnis di 30 negara yang di survei TI. Hasilnya, responden menilai para pengusaha paling gemar menyuap untuk sektor pekerjaan umum dan kontruksi. Kemudian properti & real estate, minyak & gas, serta pertambangan.

"Survei pemilihan negara berdasarkan keterbukaan perdagangan, komparabilitas data, keanggotaan di G20 dan signifikansi perdagangan," tukas Frenky.

Menanggapi peringkat tersebut, puluhan wartawan mempertanyakan kualitas hasil survei TI itu. Sebab, TI tidak menyebutkan profil pengusaha Indonesia yang suka menyuap saat berinvestasi di luar negeri.

Sebaliknya, TI Indonesia justru mengakui pengusaha asing yang gemar menyuap saat berinvestasi di Indonesia seperti Siemens dan Innospec. Keduanya terbukti melakukan suap di pengadilan setempat dan dijatuhi hukuman denda jutaan Euro.

"Siapa perusahaan multinational corporation (MNC) dari Indonesia yang suka menyuap di luar negeri? Apakah uangnya lebih banyak dari Siemens, Innosoc. Atau Freeport yang masih dilaporkan?" tanya para wartawan.

"Survei ini menjadi bias karena sebenarnya pengusaha asing itu praktik suapnya ya mungkin di Indonesia, Meksiko, Rusia, RRC. Kalau mau fair, bukan tidak mungkin, pengusaha yang suka menyuap saat berinvestasi justru dari negara-negara yang mengaku bersih seperti Belanda, Belgia, Swiss, Jerman dan AS," imbuh para jurnalis mempertanyakan kualitas survei.

Menanggapi pertanyaan wartawan, pihak IT Indonesia menyatakan akan menjadi bahan diskusi internal. Selain itu, TI Indonesia mengaku kekurangan data saat diberi rilis tersebut dari kantor pusat TI di Berlin.

"Tidak semua (metode dan hasil) dikirim ke kami. Pertanyaan wartawan akan menjadi masukan bagi kami," jawab Frenky.

Rabu (2/11) lalu, Reuters menampilkan Indeks Pembayar Suap 2011 yang dirilis TI. Survei dibuat untuk melihat pembayaran suap para pebisnis itu saat menjalankan bisnisnya diluar negeri. Skor didasarkan pada respons pebisnis eksekutif ketika ditanya seberapa sering perusahaannya, dimana mereka memiliki hubungan bisnis terkait dengan penyuapan.

Berikut peringkat 28 negara-negara utama pengekspor regional maupun internasional. Indeks 0 berarti selalu menyuap, 10 berarti tidak pernah.

Belanda (8,8) (Indeks Pembayar Suap)

Belanda (8,8)
Swiss (8,8)
Belgia (8,7)
Jerman (8,6)
Jepang (8,6)
Australia (8,5)  
Kanada (8,5)
Singapura (8,3)
Inggris (8,3)
Amerika SErikat (8,1)
Prancis (8,0)  
Spanyol (8,0)
Korea Selatan (7,9)
Brasil (7,7)
Hong Kong (7,6)  
Italia (7,6) 
Malaysia (7,6)
Afrika Selatan (7,6)
Taiwan (7,5)
India (7,5)
Turki (7,5)
Arab Saudi (7,4)
Argentina (7,3)
Uni Emirat Arab (7,3)  
Indonesia (7,1)
Meksiko (7,0)
China (6,5)
Rusia (6,1). Rata-rata (7,8).

(Ari/vit)


Berita Terkait