Alih-alih mendukung moratorium remisi koruptor diperkuat dasar hukumnya, Ruhut justru melihat upaya ini sebagai pencitraan. Genit-genit menteri dan wakil menteri baru di depan Presiden.
"Saya berbicara objektif saja. Mereka hanya melaksanakan bahasa tubuh Bapak SBY bahwa koruptor itu rampok. Kemudian genit-genit begitu, begitu lalu moratorium itu keluar," kritik Ruhut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia pun enggan membela Menkum HAM Amir Syamsuddin yang juga Sekretaris Dewan Kehormatan PD. Menurutnya kebijakan Amir sulit dibenarkan.
"Akhirnya yang namanya aku membela, Pak Amir remisi jangan diganggu, tapi hukum seberat-beratnya. Jadi setelah dihukum berat baru remisi, jangan maling ayam lebih berat hukumannya dari koruptor," kritinya lagi.
Ia malah bercanda setengah menyindir. Menurutnya Amir sebelumnya tak seekstrim itu dalam memandang kebijakan hukum.
"Begitu jadi menteri lalu insaf. Ini menterinya Pak SBY apa menterinya ICW ini, karena yang bela mereka cuma ICW," sindirnya.
Tapi ia tak ingin terlalu banyak menyindir Amir dan Denny. "Nanti dibilang inilah dendam lama bersemi kembali. Nanti saya dibilang mau jadi menteri, hahaha," ujar Ruhut sambil tertawa.
(van/anw)











































