Kepala Bidang Pengelolaan Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI Jakarta, Tarjuki, mengatakan, Jakarta sudah memiliki early warning system banjir sejak lama. Kini, pihaknya terus menyempurnakan sistem peringatan dini itu agar dampak banjir bisa diminimalisir.
"Yang paling memang utama peringatan dini dan mitigasi, karena tidak ada negara satu pun di dunia ini yang berhasil mengatasi banjir. Yang ada bagaimana negara memitigasi dan menyelamatkan nyawa penduduk dari bancana banjir," ucap Tarjuki di Balaikota DKI Jakarta, Jl Medan Merdeka Selatan, Rabu (2/11/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Tarjuki, saat ini sudah ada 7 wilayah yang sudah mempunyai alat ketinggian banjir atau Peil Schall yaitu di Kali Angke, Kali Pesanggrahan, Kali Krukut, di Kali Ciliwung (2 alat), Kali Cipinang, dan Kali Sunter. Peil Scall adalah alat berbentuk penggaris yang akan menjadi pengukur debit air yang berpotensi menyebabkan banjir.
"Alatnya sederhana, kayak penggaris, namanya Peil Schall. Harganya paling Rp 15.000-an. Nanti ketinggian airnya ketahuan dari alat itu. Kalau ketinggian airnya segini, daerah mana saja yang terkena, segini mana saja yang terkena. Di samping itu ada alat pengukur curah hujan," papar Tarjuki.
Tarjuki menambahkan, selain 7 alat yang sudah terpasang di berbagai sungai besar di Jakarta itu, pihaknya berencana menambah 10 alat lagi. Salah satunya akan dipasang di Pondok Labu, daerah yang tanpa diduga sebelumnya digenangi air cukup tinggi. Kini, ia sedang menganalisa daerah lainnya yang potensial dipasangi Peil Schall.
"Nanti saya akan meneliti titik-titik mana yang akan ditambah early warning system. Itu kan perlu analisis curah hujannya bagaimana dan sebagainya," tutur Tarjuki.
Seluruh informasi yang dihimpun dari berbagai sumber itu, terangnya, akan ditampung di Kantor Dinas Pekerjaan Umum. Dari situ, peringatan dini akan disampaikan ke daerah-daerah yang terancam oleh banjir besar melalui alat komunikasi yang ada, termasuk menggunakan radio panggil.
"Karena tidak semua masyarakat di Kali Ciliwung menggunakan internet dan punya blackberry. Jadi Pak RW mendengarkan radio, lalu RW menyebarkan informasinya ke warga. Teman-teman kita yang tergabung dalam Orari kita tampung juga. Di daerah Bukti Duri ada Orari," tandasnya.
(irw/nrl)











































