"Pendapat saya lebih cenderung kepada para politisi muda yang galau. Lembaga survei melakukan survei menggunakan metode tertentu secara ilmiah tidak asal survei, sehingga hasilnya bisa dipertanggungjawabkan. Kalau ada hasil survei yang berbeda antara satu lembaga survei dengan lembaga survei yang lain bukan berarti hasil itu tidak akurat tapi pertanyaannya yang berbeda, karena pertanyaan diajukan bisa didesain sesuai dengan metodologi yang dilakukan," ujar Syamsuddin Haris.
Hal ini disampaikan Syamsuddin kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (2/11/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mungkin saja ada satu dua lembaga survei yang melakukan itu tetapi saya yakin sebagian besar lembaga survei masih mengutamakan independensinya," tuturnya.
Menurutnya, sumber dana lembaga survei bisa bermacam-macam. Bisa dari parpol juga dari pribadi, baginya itu bukan masalah penting.
"Tapi seharusnya membuka sumber dana jangan ditutupi karena kalau tidak terbuka akan dituduh macam-macam.Karena survei adalah kegiatan penelitian yang bersifat alamiah. Ada kode etik dan standar bakunya. Kalau ada lembaga survei yang menutupi sumber dana, patut disesalkan, kalau hasil survey dibuka ke publik, mestinya sumber dana dibuka kepada publik," imbaunya.
Ia juga berharap lembaga survei memisahkan diri dari kepentingan politik tertentu. Karena itu sangat berhubungan dengan kredibilitas lembaga survei.
"Lembaga survei juga menghadapi ujian ke depan apakah tetap kredibel atau tidak. Lembaga survei juga mengalami seleksi alam. Lembaga survei yang memanfaatkan situasi, untuk kepentingan politik tertentu akan tersisih secara alamiah," jelasnya.
(van/gah)











































