"Jakarta menurut gubernur, sudah ada semacam paket-paket untuk kesiapan bahaya banjir, seperti makanan, beras, mie, minuman, perahu karet. Manakala terjadi banjir sudah siap. Langkah-langkah yang penting untuk mengantisipasi banjir sudah siap," ujar Menko Kesra Agung Laksono usai breakfast meeting Coral Triangle Initiative (CTI) di Hotel Borobudur, Jl Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Rabu (2/11/2011).
Agung menyebut, persiapan matang telah dilakukan oleh pihak pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dalam menghadapi siklus banjir 5 tahun. Khusus untuk Jakarta, Agung menyebutkan, pelebaran dan pembersihan saluran air dan gorong-gorong telah dilakukan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Agung menilai, penanganan pemerintah daerah, khususnya Jakarta, dalam menghadapi banjir cukup baik. "Secara umum di DKI sudah baik, ada Kanal Timur dan Kanal Barat, sehingga 13 sungai di Jakarta sebagian besar sudah bisa di-connect ke kanal. Masalah klasik Jakarta kan banjir dan macet, kalau banjir sudah ada penanganannya," ucapnya.
Selain persiapan di Ibukota, Agung juga menyatakan, pemerintah telah mengedarkan peringatan kepada seluruh pemerintah daerah provinsi. Daerah yang sering terkena banjir, longsor dan sebagainya diminta untuk lebih waspada.
"Seluruh masyarakat Indonesia harus tenang, tidak panik. Yang penting kerja samanya," pintanya.
Agung juga meminta pemerintah daerah selalu siap siaga dalam menghadapi banjir yang mungkin terjadi di sejumlah daerah. Sebab, yang menjadi garda terdepan adalah pemerintah daerah sesuai dengan semangat otonomi daerah.
Terakhir, Agung menuturkan, pemerintah telah meminta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk senantiasa menyampaikan perkembangan terkini mengenai cuaca. Hal ini dimaksudkan sebagai salah satu langkah antisipasi.
"Kita minta BMKG untuk selalu mewartakan atau mensosialisasikan bagaimana perkembangan (cuaca) untuk setiap minggu ke depan, atau setiap bulan ke depan untuk lebih akurat. Kita juga mengetahui dari BMKG, bahwa akhir Oktober adalah akhir musim kemarau, ternyata benar. Namun yang perlu dikhawatirkan adalah ekstremitas cuaca," tandas Agung.
(nvc/fay)










































