"Ini karena ada pejabat pemerintah, dia sangat tersinggung karena dicoret sebagai official suporting committee di New7 Wonders," jelas Ketua Pendukung Pemenangan Komodo, Emmy Hafild saat dihubungi detikcom, Selasa (1/11/2011).
Pejabat yang dimaksud Emmy ini tak lain Sapta Nirwandar yang kini menjabat sebagai Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Sapta dahulu yang mendaftarkan Komodo, Danau Toba, dan Krakatau sebagai New7 Wonders. Namun belakangan, setelah disebut pihak New7 Wonders meminta uang, pemerintah balik kanan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Emmy dan teman-temannya berniat memenangkan Komodo menjadi bagian dari keajaiban dunia. Langkah ini dia lakukan setelah melihat pemerintah tidak concern lagi dengan New7 Wonders. Pihaknya sudah melakukan kontak dengan New7 Wonders dan pada Agustus lalu dia dan teman-temannya meluncurkan dukungan kepada Komodo.
"Kalau ada yang bilang New7 Wonders itu organisasi tidak kredibel bagaimana bisa. New7 Wonders sudah bikin kompetisi keajaiban dunia sejak 2000-2007. Mereka organisasi kredibel. Presiden di sejumlah negara seperti Filipina, Korsel, dan bahkan Obama Presiden AS memakai pin untuk mendukung Colorado untuk menjadi keajaiban dunia," jelasnya.
Argumen yang disampaikan pihak KBRI Bern, Swiss yang membeberkan kejanggalan New7 Wonders pun dinilainya bukan hal baru. Mundur ke belakang, sebelum cabut dari New7 Wonders pemerintah kita sudah 2 tahun bergabung, ikut serta dalam kompetisi itu. Entah bagaimana dengan alasan ribut soal uang tiba-tiba muncul penolakan terhadap New7 Wonders.
"Argumentasinya nggak baru. New7 Wonders itu organisasi modern, mereka itu kerja lewat cyber. Kantornya di mana-mana, seperti London, Zurich, dan Kanada. Yang jelas kantor milik New7 Wonders itu memang berada di museum, karena museum itu dahulu rumah milik orang tua Bernard Weber. Museum berisi segala sesuatu soal New7 Wonders," tuturnya.
Dia meminta, jangan sampai karena ketersinggungan seorang pejabat yang namanya dicoret kemudian disebar kabar bahwa tidak penting keberadaan Komodo di New7 Wonders.
Tidak Ambil Untung
Dia juga menegaskan pihaknya tidak mengambil untung dari proyek vote komodo yang dikirim ke nomor 9818 itu.
"Dari mana untung besar? Secara ekonomis kami harus mensubsidi konsumen. Kita butuh jutaan vote seharinya. Dan saat Pak JK bergabung September lalu, ada kenaikan luar biasa," terangnya.
Awalnya SMS itu bertarif Rp 1.000, namun kemudian ditekan menjadi Rp 1. Uang yang dahulu sempat masuk digunakan untuk biaya kampanye dan iklan. Pihaknya juga harus membayar lisensi ke New7 Wonders terkait SMS dukungan.
"Bahkan Pak JK mengeluarkan biaya sendiri, naik pesawat pribadi beliau ke Komodo 2 kali. Semua trip, dia yang bayar," urainya.
Emmy menegaskan, dia dan kawan-kawannya bergabung ke New7 Wonders semata guna memenangkan Komodo. "Cuma Indonesia yang mempersoalkan. Ada 26 negara yang tidak pernah mengutak atik, bahkan sepenuhnya pemerintahnya mendukung kompetisi ini," tuturnya.
Maladewa adalah salah satu negara yang secara resmi mundur dari New7 Wonders. Negara itu mundur, dengan alasan banyak dimintai biaya oleh panitia New7 Wonders.
Alasan pertama pemerintah Maladewa menarik diri dari kompetisi itu adalah mahalnya biaya lisensi dan paket sponsor yang diminta panitia penyelenggara New7Wonders. Jumlahnya pun tak main-main. Contohnya saja, pemerintah Maladewa diharuskan membayar biaya lisensi untuk penerbangan Maladewa sebesar US$ 1 juta atau sekitar Rp 8,8 miliar. Belum biaya sponsor dan lainnya.
"Dengan menyesal, kami menarik diri dari kompetisi ini karena tuntutan tak terduga atas sejumlah uang yang diminta dari penyelenggara New7Wonders," kata Thoyyib Mohamed, Menteri Negara Pariwisata, Seni dan Budaya dalam visitmaldives.com, Kamis (20/10).
(ndr/asy)











































