"Sebab mereka punya solid voters," ujar Yunarto Wijaya, pengamat politik dari Charta Politica, Minggu (30/10/2011).
Secara spesifik, Yunarto menyinggung komitmen Partai Golkar yang mengusung Aburizal Bakrie sebagai bakal capres untuk Pilpres 2014. Bila merujuk berbagai hasil survey yang ada, siapa pun penyelenggara survey tersebut, selalu dinyatakan Partai Golkar termasuk dalam tiga besar partai politik pemenang Pemilu 2014.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal serupa juga berlaku pada PDIP. Berbagai hasil survey masih menyebutkan PDIP sebagai parpol yang berpeluang bangkit pada Pemilu 2014 setelah perolehan suaranya dalam Pemilu 2004 dan 2009 terus merosot.
"Jadi kalau (capres dini) di Golkar dan PDIP, aman lah," ujar Yunarto.
Berdasar aturan UU Pilpres, tidak sembarang parpol peserta pemilu bisa mengajukan pasangan bakal capres-cawapres. Hanya partai politik dengan perolehan suara nasional hasil pemilu lebih dari 25% atau memperoleh minimal 20% kursi di DPR yang bisa mengajukan pasangan bakal capres dan cawapres ke KPU sebagai kontestan Pilpres 2014.
Sedangkan parpol dengan perolehannya kurang dari dua kriteria tersebut, harus berkoalisi untuk bisa mengusung pasangan bakal capres-cawapres jagoannya. Namun tidak tertutup pula kemungkinan parpol yang memenangkan pemilu tetap memerlukan partai lain untuk memperkuat dukungan terhadap pasangan capres-cawapres jagoannya.
Di dalam proses politik, penggabungan kekuatan untuk mengusung pasangan bakal capres-cawapres ini yang menurut Ramadhan Pohan sangat dinamis dan bisa menghasilkan kejutan. Belum tentu partai politik yang diajak bergabung bersedia mengusung bakal capres yang ditawarkan.
"Bisa banget si capres dini batal jadi capres resmi," ujar Wasekjen DPP PD, Ramadhan Pohan, Minggu (30/10/2011).
(lh/fay)











































