Citra Politisi Muda Merosot karena Terlibat Korupsi

Survei LSI

Citra Politisi Muda Merosot karena Terlibat Korupsi

- detikNews
Minggu, 30 Okt 2011 15:59 WIB
Citra Politisi Muda Merosot karena Terlibat Korupsi
Jakarta - Lingkaran Survei Indonesia (LSI) merilis hasil risetnya bahwa publik kecewa terhadap kiprah politisi muda. Meorosotnya kepercayaan publik terhadap politisi muda disebabkan 4 alasan, salah satunya karena turut terlibat korupsi.

"Alasan pertama karena pemberitaan korupsi yang menghiasi media massa saat ini didominasi para politisi muda," kata peneliti LSI Adjie Alfaraby, di Kantor LSI, Jl Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur, Minggu (30/10).

Adjie mengatakan, dari riset media yang dilakukan lembaganya, ada 'top five' politisi muda yang tersandung kasus korupsi. 4 diantaranya adalah politisi Partai Demokrat (PD). Mereka adalah Nazaruddin (33), Angelina Sondakh (34), Anas Urbaningrum (42), Andi Malarangeng (48), dan Muhaimin Iskandar (45) dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"5 Tokoh ini dari sisi pemberitaan media massa terbukti merusak citra politisi muda di mata publik," ujar Adjie.

Alasan kedua, politisi muda yang menempati pos menteri malah dililit masalah hukum dan dianggap tidak memiliki prestasi selama bekerja.

Berdasarkan risetnya, LSI mencatat kurang dari 40 persen publik puas terhadap beberapa menteri dari politisi muda yang saat ini berada di kabinet Indonesia Bersatu. Mereka adalah Zulkifli Hasan (49) yang merupakan kader PAN dan duduk di Kementerian Kehutanan, Andi Malarangeng yang ada di Kemenpora, Muhaimin Iskandar di Kemenakertrans, dan Helmy Faizal yang duduk sebagai Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal.

"Diharapkan menteri muda dapat memberikan inovasi dan terobosan-terobosan dalam kabinet, tapi ternyata sama dengan menteri yg tua," tutur Adjie.

Alasan ketiga adalah ketiadaan pemimpin muda dari 9 partai politik yang lolos dalam electoral treshold tahun 2009. Dari 9 itu, hanya dua parpol saja yang dipimpin oleh kaum muda, PD oleh Anas Urbaningrum dan PKB oleh Muhaimin Iskandar. Sementara ketua umum 7 parpol lainnya berusia di atas 50 tahun.

"Tidak ada yang istimewa pemimpin muda yang memimpin parpol. Lebih jauh lagi, mereka sedang diproses KPK dalam isu korupsi. Ini menjadi semacam dilema," terang Adjie.

Alasan keempat adalah romantisme sejarah dimana perubahan zaman dibawa oleh segelintir pemuda tahun 1908, 1928, 1966, dan 1998, yang berhasil dalam setiap gerakannya. Namun kali ini publik kadung kecewa karena kasus korupsi yg melilit para politisi muda.

"Politisi muda di memori publik lekat dengan romantisme politik. Publik kecewa politisi muda yang berada di puncak jabatan publik justru dililit kasus korupsi," kritiknya.

Lalu, bagaimana dengan politisi senior, apakah lebih baik dari politisi muda?

"Hanya 15.4 persen saja publik yang menganggap politisi muda lebih baik dari seniornya. 23.8 persen publik menganggap politisi senior lebih baik dari yang muda. Dan 37.6 persen menganggap politisi muda sama saja," jelasnya.

"Bahkan publik menganggap politisi muda mereproduksi keburukan seniornya," tambah Adjie.

(ahy/gun)


Berita Terkait