"Bisa banget si capres dini batal jadi capres resmi," ujar Wasekjen DPP PD, Ramadhan Pohan, kepada detikcom, Minggu (30/10/2011).
Mantan jurnalis ini mengingatkan, Pilpres 2014 dilangsungkan setelah Pemilu 2014. Berdasar ketentuan UU Pilpres, maka hanya partai politik dengan perolehan suara nasional lebih dari 25% atau memperoleh minimal 20% kursi di DPR yang bisa mengajukan pasangan bakal capres dan cawapres ke KPU sebagai kontestan Pilpres 2014.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di dalam proses politik, penggabungan kekuatan untuk mengusung pasangan bakal capres-cawapres ini yang menurut Ramadhan Pohan sangat dinamis dan bisa menghasilkan kejutan. Belum tentu partai politik yang diajak bergabung bersedia mengusung bakal capres yang ditawarkan.
"Karena kerja keras caleg-calegnya, parpol bisa lolos PT. Tapi saat mengajukan nama capres, belum tentu mampu sendirian gara-gara perolehan suara nasionalnya kurang. Ketika berkoalisi, belum tentu parpol yang dia dekati mau dengan capres yang ditawarkan sebab punya capres sendiri," papar Ramadhan.
"Belum lagi faktor budaya politik. Masyarakat kita tidak suka orang narsis dan ambisius. Ada banyak preseden pasca reformasi di mana publik malah anti pati terhadap capres dini," sambungnya.
Berdasar pengalaman dua kali pilpres, PD tidak akan buru-buru mengajukan kandidat pasangan capres-cawapres untuk Pilpres 2014 sebelum mengetahui hasil akhir Pemilu 2014. Prioritas utama adalah memenuhi syarat untuk bisa mengajukan pasangan bakal capres-cawapres mereka, yaitu memenangkan Pemilu 2014
"Kami tidak buru-buru bicara capres. Sekarang masih terlalu dini. Fokus kami memenangkan Pemilu 2014, baru kemudian Pilpres 2014," imbuhnya.
Seperti diketahui, dalam Rapimnas Golkar kemarin diputuskan bahwa Aburizal Bakrie akan menjadi calon presiden pada 2014. Keputusan ini diambil tanpa melalui mekanisme konvensi yang sudah menjadi tradisi sebelumnya.
(lh/fay)











































