"Ical cuma berkhayal. Dapat posisi nomor dua (Wapres) saja sudah bagus," ujar pengamat politik UI, Iberamsjah, kepada detikcom, Sabtu (29/10/2011) malam.
Menurut Iberamsjah, sulit bagi Ical untuk memenangkan pertarungan antar-Capres. Ical dinilai tidak memiliki prestasi atau rekam jejak yang membuatnya akan dipilih oleh masyarakat.
"Tidak ada yang bisa dibanggakan, juga tidak ada karya yang luar biasa dari seorang Aburizal Bakrie," tambahnya.
Langkah Ical untuk meniadakan konvensi Capres di internal Partai Golkar pun dinilai karena Ical tidak mau ada saingan dari dalam. Padahal para pendukung Ical dinilai hanya para oportunis yang ingin mengambil keuntungan dari salah satu orang terkaya ini.
"Ical takut tersaingi. Rasa hormat kader pada Ical itu mungkin tidak sebesar pada JK, bahkan pada Akbar Tandjung," jelasnya.
Iberamsjah pun menilai perolehan suara Partai Golkar tidak akan naik signifikan pada Pemilu 2014 mendatang. Partai Demokrat walau akan turun pun tidak akan turun terlalu jauh.
"Memang Demokrat akan turun karena SBY tidak mencalonkan diri lagi. Tetapi tidak akan jauh. Golkar juga tidak akan naik. Bisa bertahan saja sudah bagus," jelas Iberamsjah.
Sebelumnya, dalam HUT ke-47 Partai Golkar di Senayan, tampak terpampang jelas di salah satu sudut stadion, tulisan besar "Ical For RI 1". Tulisan berwarna hitam dengan alas spanduk warna kuning itu dibawa oleh belasan orang yang duduk berbaris memanjang.
"Berkompetisi dalam kebaikan. Tahun lalu, langit biru dan padi sudah mulai menguning. Tahun ini saya laporkan, padi terus menguning semakin matang dan akan menjadi beras pada tahun 2014," ujar Ical dalam pidatonya di Senayan, Jakarta, Sabtu (29/10/2011).
(rdf/rdf)











































