Ini Alasan Ikbal Bentangkan Poster di Depan Wapres Boediono

Ini Alasan Ikbal Bentangkan Poster di Depan Wapres Boediono

- detikNews
Minggu, 30 Okt 2011 00:30 WIB
Bandung - Ketua Hima Persis Jabar Ikbal Sabarudin (23) buka suara soal motivasi nyelonong serta membentangkan poster di hadapan Wapres Boediono. Ia secara tegas tidak memiliki niat melecehkan simbol negara atau melakukan tindakan makar.

"Saya tidak berniat melecehkan atau menghina Wapres Boediono. Saya hanya ingin menyampaikan pesan saja melalui poster. Karena saya jenuh dan ini titik akumulasi kekecewaan saya," ujar Ikbal kepada wartawan di salah satu kawasan Kota Bandung, Sabtu (29/10/2011).

Ikbal mengaku jenuh dengan kondisi Indonesia yang diterpa beragam masalah. Mulai korupsi hingga persoalan kesejahtreraan rakyat, menjadi keprihatinan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Maka saya bentangkan poster di depan Wapres Boediono," ungkap Ikbal.

Pemuda kelahiran Tasikmalaya ini membawa poster yang disimpan di dalam tas ransel. Ia melakukan aksi nekat tersebut menjelang acara berakhir. Poster dari karton itu bertulis, 'Sumpah serapah 28 Oktober 2011, Mengutuk korupsi para pejabat yang tak amanah, mengutuk presiden dan wapres yang tidak mensejahterakan rakyat'.

"Aksi itu memang saya akui salah. Saya nekat karena ingin dilihat Boediono. Paspampers memukul saya hal wajar. Itu tugas mereka mengamankan simbol negara. Nah tugas saya ingin mengingatakan agar para pemimpin berkerja sesuai amanah," tuturnya.

Tujuan Ikbal lainnya yakni agar pemerintah bersikap tegas menindak koruptur serta mengingatkan presiden dan wakilnya serius mensejahterakan rakyat
Indonesia.

"Apa yang saya sampaikan ini sama dengan harapan ribuan dan jutaan warga Indonesia. Apa yang saya lakukan bukti cinta dengan Indonesia. Poster itu sebagai pesan atau surat cinta kepada pemerintah," jelas Ikbal.

(bbn/rdf)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini