"Kita pastikan tulang-tulang rangka yang ada ini adalah tulang rangka orangutan dewasa jenis Morio. Contoh bukti sederhana, dari tulang rangka rahang kiri," kata Peneliti Pusat Penelitian Hutan Tropis (PPHT) Universitas Mulawarman Samarinda, Dr Yaya Rayadin, dalam jumpa pers di kantornya, Sabtu (29/10/2011) WITA.
Tulang-tulang rangka temuan warga Muara itu, diserahkanterimakan ke PPHT Universitas Mulawarman Samarinda, pada Jumat 28 Oktober, untuk diteliti dengan maksud untuk memastikan tulang-tulang tersebut merupakan tulang orangutan yang sebelumnya mati dan diduga akibat dibantai warga yang yang tidak bertanggungjawab.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tulang tersebut, sambung Yaya, juga merupakan rangkaian tulang lengan (forelimb) yang dimiliki orangutan dewasa dengan ciri khas berlengan panjang.
"Tulang-tulang yang kita teliti, setelah direkonstruksi, merupakan bagian tulang lengan yang lengkap dari satwa orangutan dewasa," terang Yaya.
"Juga ada dari tulang-tulang ini, merupakan bagian dari kaki orangutan (Hindlimb) yang berbentuk khas dan melengkung dan biasanya ukurannya lebih pendek dari bagian tulang lengan," jelasnya.
Bahkan, Yaya dan rekannya di PPHT, juga mengamati potongan rahang kiri yang masih terdapat gigi orangutan. Menurutnya, terdapat bagian gigi dan rahang yang terpotong dengan bekas potongan bepermukaan rata.
"Seperti bekas potongan benda luar sehingga permukaan potongan rata seperti ini. Munurut saya yang lebih memahaminya adalah ahli forensik tulang," sebut Yaya.
"Seharusnya, tulang-tulang ini rapuh dan hancur dengan adanya mikrobakteri. Itu kalau orangutan, matinya secara alami semisal tergerus usia. Tapi, faktanya, tulang-tulang ini masih keras," tambah Yaya.
Yaya enggan menjawab ketika ditanya wartawan apakah ada unsur kesengajaan untuk menghilangkan nyawa orangutan dengan membunuhnya.
"Saya tidak berwenang mengatakan orangutan dari rangkaian tulang ini sebelumnya mati karena dibunuh. Meski memang kalau mati alami, pasti tulangnya sudah rapuh dan hancur karena mikrobakteri. Tidak keras seperti ini," sebut Yaya lagi.
"Terdapat berbagai macam penyebab kematian orangutan. Salah satunya, bisa saja diburu oleh manusia untuk tujuan tertentu. Yang jelas, orangutan tidak bisa ditangkap kalau tidak diburu terlebih dahulu," tutup Yaya.
Seperti diberitakan sebelumnya, dugaan pembantaian orangutan Kalimantan (Pongo Pygmaeus) itu muncul dalam pemberitaan harian lokal di Kaltim. Pembantaian itu diduga berlangsung sekitar tahun 2009-2010 lalu, di Desa Puan Cepak, Kecamatan Muara Kaman, Kutai Kartanegara.
Polres Kutai Kartanegara yang tengah menyelidiki dugaan pembantaian orangutan itu hingga saat ini, belum berhasil menemukan tulang-tulang yang diduga tulang orangutan, yang disebutkan dalam pemberitaan tersebut.
Bahkan, Kades Puan Cepak Kadir pun, mengakui adanya pembunuhan orangutan di wilayah desanya, yang terjadi beberapa tahun silam.
"Ya memang benar ada satwa orang utan dibunuh warga desa. Kejadiannya itu sekitar 2 hingga 3 tahun lalu. Kejadian itu sebelum saya menjadi kepala desa. Saya menjabat sebagai kepala desa sejak 8 April 2010. Pembunuhan orang utan itu sudah jadi rahasia umum," kata Kadir, ketika dihubungi wartawan melalui sambungan telepon.
(ken/ken)










































