Ide Kreatif dari Kloter SUB 48

Laporan dari Arab Saudi

Ide Kreatif dari Kloter SUB 48

- detikNews
Jumat, 28 Okt 2011 14:14 WIB
Ide Kreatif dari Kloter SUB 48
Madinah - Dari jauh, rombongan calon haji dari Kabupaten Sidoarjo itu tampak mencolok. Baju ihram jamaah pria tampil apik dengan list biru di pinggir dua kain tak berjahit itu.

"Ini untuk memudahkan kami dalam melakukan tawaf dan sa'i, kami akan berbaris satu kloter," kata ketua kloter SUB 48, Luthfillah, sembari menunggu pemberangkatan ke Makkah, di depan penginapannya di Elyas Center, Madinah, Jumat (28/10/2011) pukul 08.15 WAS atau 12.15 WIB. List biru juga terlihat di pakaian ihram jamaah wanita.

Ide baju ihram bergaris biru sebagai penanda itu lahir berdasar pengalaman. Selama ini, usai tawaf atau sa'i, jamaah semburat bercampur dengan jamaah lain, sehingga banyak yang terpisah dari rombongan. Mencarinya bukan perkara mudah, karena jutaan jamaah seantero dunia tumpah di tempat yang sama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau ada warna kan saling mengenali," kata Luthfillah.

Selain baju ihram, penanda rombongan lainnya adalah kalung identitas (name tag). Di name tag itu terdapat nama jamaah dan baliknya tertulis nomor telepon pengurus kloter yang bisa dihubungi di Saudi.

Ada lagi yang ketiga, yaitu kopor. Kloter SUB 48 terdiri dari 450 jamaah dan terbagi dalam 10 rombongan, masing-masing rombongan 45 jamaah. Tiap rombongan naik di satu bus dan mereka memiliki kopor yang berbungkus warna berbeda.

Ada rombongan yang kopor resminya berbungkus kain oranye, merah muda, ungu, putih, dsb.

"Tujuannya adalah begitu jamaah turun dari hotel atau di bandara, akan saling mengenali, minimal mengenali 45 kopor rombongan," beber Luthfillah. Penanda lainnya adalah peci/ kopiah.

Bagaimana rombongan haji reguler ini memiliki persiapan serapi ini? Rupanya mereka berasal dari KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) yang sama yaitu Mabruroh. KBIH ini telah berpengalaman membimbing jamaah, tiap tahun membimbing jamaahnya berhaji.

"Semuanya sudah kami persiapkan sedetail apa pun. Apa barang yang boleh dibawa, apa yang tidak, termasuk peniti sekali pun. Apa saja isi kopor, isi tas tenteng," kata Luthfillah yang menyebut jamaahnya telah antre berhaji selama 6 tahun.

Meski telah sering membawa jamaah berhaji, tapi Luthfillah tetap harap-harap cemas saat hendak berpindah ke Makkah hari ini.

"Kami dag dig dug, karena kami datang ke Makkah dalam kondisi jamaah gelombang II sudah di Makkah, jadi di sana sudah sangat penuh jamaah," ujarnya.

Jamaah gelombang I, menjadikan Madinah sebagai kota tujuan pertama, sedang gelombang II dari Jeddah langsung ke Makkah.

Luthfillah mewaspadai jamaah sepuh di kloternya yang mencapai 85 orang. "Apalagi pemondokan kita di Makkah cukup jauh yaitu di Bakhutmah. Katanya jaraknya 2,5 km," ujar Luthfillah yang mengkhawatirkan minimnya sarana angkutan ke Masjidil Haram nantinya.

Di antara rombongan ini terdapat Ali Mas'ad. Dia dan istri berangkat haji setelah menerima ganti rugi akibat rumahnya terendam lumpur Lapindo.

"Begitu dapat DP (ganti rugi rumah) Rp 20 juta, saya setor dulu (untuk DP naik haji)," ujarnya.

Hari ini sebanyak 9 kloter telah didorong ke Makkah untuk menanti puncak haji 5 November. Dengan demikian, Madinah - 450 km dari Makkah - telah bersih dari jaamaah Indonesia. Usai puncak haji, jamaah lainnya (gelombang II) mengalir dari Makkah ke Madinah. Sedang jamaah gelombang I yang telah mencicipi Madinah lebih dulu, menanti pemulangan ke Tanah Air.

(nrl/vit)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads