"Saya ingin mengingatkan satu hal yang dapat merongrong pondasi bangsa. Kaum muda Indonesia jangan sampai tergoda oleh sikap yang sempit dan eksklusif, bahwa kelompoknyalah yang paling benar, kelompok lain harus mengikuti pandangan kita," ujar Boediono dalam pidatonya di Stadion Siliwangi, Bandung, Jumat (28/10/2011).
Menurut Boediono, menghindari sikap eksklusif ini adalah cobaan yang berat bagi pemuda. Sebab, anak muda sering terkecoh dan menganggap sikap ini sebagai bentuk kecintaan pada kelompoknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Boediono mengatakan, mengadopsi eksklusivisme dan pandangan berbangsa yang sempit sama saja dengan mengakhiri kesepakatan para pendiri bangsa. Padahal dulu kaum muda itu dengan pikiran jernih berikrar menanggalkan berbagai perbedaan.
"Para pendahulu kita membuka diri masing-masing agar mampu menerima perbedaan pandangan dan sikap. Keterbukaan dan toleransi merajut perbedaan dalam satu kebersamaan. Inilah kunci eksistensi Indonesia yang harus terus kita pertahankan sampai akhir zaman," tuturnya.
Dalam kesempatan itu, Boediono juga mengungkapkan keyakinannya bahwa pemuda Indonesia masih punya rasa cinta yang dalam.
"Di kalangan pemuda, rasa cinta pada negeri ini masih sangat dalam. Para pemuda kita yang berkesempatan mengenyam pendidikan di luar negeri, umumnya selalu kembali pulang. Ibaratnya mereka lebih suka hujan batu di negeri sendiri daripada hujan emas di negeri orang," jelasnya.
"Banyak pemuda kita yang dengan sukarela dan tulus mengabdikan diri untuk menegakkan demokrasi dan keadilan, memerangi korupsi dan menolong masyarakat kita yang tertinggal dan terpinggirkan. Banyak pemuda kita yang tergerak mengajar adik-adiknya yang tinggal di wilayah terpencil jauh dari kenikmatan dan kemapanan," tambahnya panjang lebar.
(gun/aan)










































