Agung: Konvensi Rawan Money Politic dan Bisa Pecah Belah Partai

Agung: Konvensi Rawan Money Politic dan Bisa Pecah Belah Partai

- detikNews
Kamis, 27 Okt 2011 20:19 WIB
Agung: Konvensi Rawan Money Politic dan Bisa Pecah Belah Partai
Jakarta - Rapat pimpinan nasional Partai Golkar sepakat mengusung Aburizal Bakrie sebagai bakal jagoannya untuk Pilpres 2014. Tidak perlu lagi menggelar konvensi sebagai ajang pencarian bakal calon jagoan seperti yang pernah mereka lakukan ketika akan menghadapi Pilpres 2004.

Partai Golkar juga tidak menggelar konvensi untuk Pilpres 2009 lalu. Mengapa konvensi tidak perlukan lagi?

"Maju dari hasil konvensi ternyata tidak berhasil," jawab Wakil Ketum DPP Golkar, Agung Laksono, yang ditemui wartawan di Kantor Sekretariat Negara, Jakarta, Kamis (27/10/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasar pengalaman menggelar konvensi saat menghadapi Pilpres 2004, Agung menyebut ada beberapa faktor yang membuat ajang tersebut dinilai tidak cukup berhasil. Salah satunya adalah rendahnya dukungan dari jajaran pengurus dan kader Golkar di daerah terhadap pasangan capres-cawapres yang terpilih melalui ajang konvensi.

"Kita tidak bisa antisipasi internal yang menghendaki capres dari partainya sendiri," ujar Agung yang di dalam KIB II menjabat sebagai Menko Kesra.

"Selain itu juga rawan money politic, bisa memecah belah partai. Menurut saya konvensi kurang pas kalau sekarang," paparnya mengenai faktor ke tiga kelemahan konvensi.

Menurutnya metode paling tepat untuk menjaring bakal capres adalah menggelar survey internal. Namun sebelum survey itu dilakukan, nyatanya dari daerah-daerah sudah muncul aspirasi untuk mengusung Aburizal Bakrie sebagai bakal capres meski sifatnya belum final.

"Dari daerah-daerah mendesak. Saya yakin Golkar akan mengusung Pak Ical nanti," sambung Agung.

Mengenai penetapan Ical sebagai kandidat calo presiden yang Golkar usung, rencanya akan ditetapkan dalam Rapimnas 2012. Namun demikian situasi bisa saja berubah menjadi lebih cepat atau lambat, tergantung pada dinamika internal Golkar.

"Bisa saja ada perubahan, tergantung suara dari bawah," ujar Agung.

Sepanjang sejarahnya, baru satu kali Partai Golkar menggelar konvensi untuk menjaring kandidat capres, yaitu ketika akan menghadapi Pilpres 2004. Pada saat itu yang terpilih sebagai jagoan Golkar sebagai capres adalah Wiranto yang kemudian Solahudin Wahid untuk mendampinginya sebagai cawapres.

(lh/ndr)


Berita Terkait