"Tidak banyak yang dirawat di sini, tidak sampai 50 orang. Itu pun campuran gangguan ringan dan berat," ujar dokter spesialis kejiwaan, Juwita Saragih, yang menangani bagian psikiatri di Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) Madinah, Kamis (27/10/2011).
Gangguan kesehatan jiwa yang diderita sejumlah pasien, kata Juwita, terbagi dua yaitu ringan dan berat. Ringan seperti perasaan cemas, gelisah, gangguan penyesuaian dengan lingkungan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gangguan kesehatan jiwa tersebut, kata Juwita, ada yang karena bawaan dari Tanah Air yang tak terdeteksi, maupun faktor stres di Saudi yang menjadi pemicu.
dr Nurbaiti menambahkan, pesan-pesan 'menakutkan' yang diterima jamaah saat masih di Tanah Air kadang memunculkan tekanan tersendiri. Misalnya, jangan sampai terpisah dari rombongan agar tidak tersesat.
"Kalau di masjid, kadang ada jamaah yang nabrak-nabrak orang sambil memegangi mukena teman di depannya. Itu karena ada rasa takut terpisah atau kesasar," cerita Nurbaiti.
Suasana baru, perasaan tertekan karena sendiri saat tersesat, tak bisa berbahasa Indonesia, kelelahan, plus mungkin bakat yang ada, bisa menjadi pemicu gangguan kejiwaan. "Kalau sudah ketemu rombongannya, sudah sehat kembali," jelasnya.
Saat ini pasien psikiatri yang dirawat di BPHI tinggal satu orang. Sedangkan pasien sakit fisik juga tinggal beberapa saja. Sebagian besar pasien telah dievakuasi ke Makkah untuk umroh dan menanti puncak haji yang diperkirakan jatuh pada Sabtu 5 November. Evakuasi dilakukan dengan diangkut mobil ambulans. Jarak Madinah-Makkah sekitar 450 km.
(nrl/vit)











































