"Kami pada tahun 2004 itu melalui konvensi karena kami ingin buktikan Golkar sudah berubah dengan paradigma baru terutama dalam rekruitmen capres," kata Akbar di arena Rapimnas Golkar di Hotel Mercure, Ancol, Jakut, Kamis (27/10/2011).
Menurut Akbar, konvensi memberikan kesempatan terbuka kepada seluruh tokoh yang merasa terpanggil. Dengan konvensi, suasana demokrasi pun akan kelihatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Konvensi, lanjut Akbar, melibatkan jajaran partai dari bawah. Konvensi juga memaparkan visi dan misi Capres. Namun, menurut dia, bila kemudian Golkar kali ini tidak melakukan konvensi, bukan berarti tidak demokratis.
"Tetap demokratis karena aspirasi DPD-DPD. Konvensi juga demokratis," imbuhnya.
Akbar mengaku walau kemungkinan dia mendapat dukungan apabila konvensi dilakukan, namun dia tidak risau. "Ya enggak apa-apa ini kan keputusan organisasi. Mewujudkan melalui rapim cukup dan representatif. Dan kita harus menghormati," jelasnya.
Akbar juga menjelaskan bahwa peniadaan konvensi ini bukan dari Ketua Umum Aburizal Bakrie, semata karena aspirasi dari DPD yang masuk di Rapimnas. "Ical tidak pernah mengarahkan, saya tidak mendengar itu dan ini muncul dari DPD tingkat I," tuturnya.
Untuk diketahui, konvensi Golkar di era Jusuf Kalla pada 2009 juga ditiadakan. JK melakukannya dengan menjaring aspirasi dari daerah. Nah, dahulu sempat muncul sejumlah calon selain JK. Kemudian calon-calon itu disurvei, yang paling unggul menjadi pemenang dan itu JK. Di era Ical melalui Rapimnas langsung ketok palu bahwa ketum menjadi capres.
(ndr/asy)











































