"Ya tentu ada unsur ketakutannya. Sebetulnya lebih takut malu. Kalau seandainya kalah, kan malu sebagai seorang ketum kok kalah. Jadi yang ditakutkan konsekuensinya seperti takut jadi omongan," ujar pengamat politik UI Andrinov Chaniago kepada detikcom, Kamis (27/10/2011).
Menurut Andrinov, mestinya untuk membangun budaya demokrasi di internal Partai Golkar, Ical harus melakukan konvensi. Partai Golkar sebagai partai lama juga harus mempelopori cara-cara demokratis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seharusnya, lanjut Andrinov, Ical jangan terlihat menolak mentah-mentah konvensi. Dengan tetap melakukan konvensi, keputusan akhir bisa tetap diputuskan melalui Ical sebagai ketua umum Partai Golkar.
"Lebih baik melakukan konvensi yang tidak murni persaingan seperti konvensi diputuskan melalui voting," tutup Andrinov.
Sebelumnya, Ical di sela-sela Rapimnas Partai Golkar, di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta, hari ini menegaskan tidak akan ada mekanisme konvensi pada pemilihan capres 2014. Dalam konvensi, calon dari parpol akan ditandingkan dengan calon lain sesama partai. Namun hal itu tak dilakukan lagi oleh Partai Golkar.
"Eggak ada, enggak ada (konvensi)," kata Ical.
(nik/ndr)











































