Doa bersama di antaranya dilakukan di masjid di huntara Dusun Gondang, Cangkringan, seusai salat maghrib. Mereka memanjatkan doa bersama untuk 200-an warga Kecamatan Cangkringan yang tewas akibat erupsi Merapi yang terjadi pada bulan Oktober dan November 2010 lalu.
"Tanggal 26 Oktober adalah peristiwa pertama dari erupsi Merapi yang menewaskan puluhan warga Kinahrejo termasuk juru kunci Merapi Mbah Maridjan," ungkap Hartono salah satu warga Kepuharjo, Cangkringan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, pada peristiwa pertama mengakibatkan wilayah Kaliadem Kepuharjo dan Kinahrejo, Umbulharjo Cangkringan terkubur material. Peristiwa kedua terjadi pada tanggal 4 dan 5 November 2010 yang mengakibatkan 240-an warga tewas dan 700 orang luka-luka serta puluhan dusun tertimbun material. Ribuan pengungsi sempat ditampung di Stadion Maguwoharjo Sleman dan tersebar di berbagai tempat di Sleman dan Klaten. "Kami mengungsi sampai wilayah selatan Prambanan," kenang Hartono.
Dia mengatakan doa bersama ini sebagai peringatan agar warga diberikan kekuatan sehingga mampu bangkit kembali. Sebab sampai saat ini sebagian besar warga masih tinggal di tempat hunian sementara. Sedangkan bantuan dari pemerintah baik untuk pembangunan rumah dan fasilitas yang lain belum juga turun.
"Ekonomi warga juga belum pulih dan semua berharap agar bantuan cepat turun," katanya.
Menurut dia, setahun peristiwa Merapi berdasarkan penanggalan Jawa sudah dilakukan seminggu yang lalu. Beberapa orang warga diantaranya ada yang melakukan tabur bunga di makam umum atau tempat pemakaman massal korban Merapi milik Pemda Sleman di Minggir Sleman serta di makamkan dusun-dusun sekitar.
"Hari ini hingga beberapa hari ke depan adalah hari berduka bagi warga lereng Merapi. Namun kita berharap bisa cepat bangkit dan pulih," katanya.
(bgs/fjp)











































