"Ada target yang diberikan, di antaranya melakukan publikasi di jurnal internasional. Nah, mereka diberi kesejahteraan yang cukup, yaitu mereka diberi gaji dasar Rp 15 juta per bulan," ujar Rektor UI, Gumilar R Somantri, Foodism, FX, Senayan, Jakarta, Rabu (26/10/2011).
Jumlah gaji dasar ini masih ditambah oleh gaji dari aktivitas dia mengajar. Jadi, setiap dosen inti penelitian di UI kira-kira memperoleh gaji sebesar Rp 18 juta atau pendapatan tertinggi sebesar Rp 30 juta per bulan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dosen inti penelitian mempunyai tugas yang cukup intens di kampus dan memang lebih banyak mengalokasikan waktu untuk melakukan penelitian. Namun demikian, dosen kategori ini juga harus mengajar, meski jumlah waktu mengajar dibatasi, yakni 6 SKS per minggu.
Sedangkan untuk dosen inti pengajaran lebih banyak mengalokasikan waktu untuk mengajar, dengan beban mengajar sebanyak 6-18 SKS per minggunya. Namun, untuk dosen kategori ini bisa jadi memperoleh pendapatan lebih tinggi, sebab didasarkan pada beban mengajar yang dipikulnya.
"Jika bicara mengenai take home pay, tentu yang mengajar banyak, tentu akan memperoleh pendapatan lebih tinggi. Tapi kan ada juga pembatasan dari jumlah SKS yang boleh dilakukan tiap minggunya. Karena kita harus menjaga kualitas pengajaran," tuturnya.
"Intinya di sini kita mencoba memberikan penghargaan kepada dosen dan para peneliti," tegas Gumilar.
Menurutnya sistem penataan dosen ini berpengaruh positif bagi UI sendiri, maupun bagi kesejahteraan para dosen dan peneliti yang ada. Gumilar mengklaim, telah terjadi peningkatan penghasilan bagi dosen dan distribusi penghasilan yang lebih merata di setiap fakultas.
Selain itu, citra UI ikut terangkat dengan semakin banyaknya hasil riset dan penelitian yang dipublikasikan di jurnal internasional.
"Hasilnya memang, menurut evaluasi akhir luar biasa. Dulu di tahun 2007 atau sebelumnya, jumlah publikasi UI di Jurnal Internasional hanya berkisar 5 atau 10 atau 20 buah artikel per tahunnya. Tapi saat ini terjadi lonjakan yang serius, di mana sampai hampir 300 artikel di jurnal internasional," ujarnya.
(nvc/lh)










































