"Jadi Polri dan KPK harus mampu menembus barikade atau pihak-pihak yang mencoba melindungi Nunun. Dan itu saya kira peran Presiden juga sangat strategis di sini," kata peneliti ICW Febri Diansyah kepada detikcom, Rabu (26/10/2011).
Menurut Febri, informasi yang disampaikan Busyro harus disikapi serius juga oleh kepolisian. Kerjasama interpol dengan negara tempat Nunun bersembunyi mutlak dibutuhkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi Febri, tidak hanya kekuatan militer atau keamanan yang menjadi kekhawatirannya. Tapi ada kekuatan lain yang berusaha melindungi aktor intelektual di balik kasus kakap tersebut.
"Yang paling mengkhawatirkan adalah bagi kita sebenarnya jika ada kekuatan lain yang tidak ingin kasus ini dibongkar sampai pada aktor yang lebih besar. Salah satu pintu untuk membuka itu adalah melalui keterangan Nunun," jelasnya.
"Apalagi Pak Busyro sudah sampaikan ada kekuatan militer di sana meskipun kita belum tahu apakah ada kekuatan militer kita atau militer yang negara bersangkutan atau militer lain yang tidak resmi," tutupnya.
Sebelumnya Busyro Muqoddas menyebutkan, Nunun sulit dijangkau karena ada kekuatan di luar KPK yang bermain.
Nunun telah masuk jajaran buron interpol setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus suap Deputi Gubernur Senior (DGS) Bank Indonesia pada Mei lalu. Jauh sebelum penetapan status itu, Nunun memang sudah tidak berada di Indonesia.
Pihak pengacara maupun keluarga Nunun menyebut, perempuan yang dikenal sebagai salah satu sosialita itu tengah berobat ke Singapura karena sakit pelupa berat. Nunun juga kerap mangkir dari pemanggilan KPK untuk diperiksa sebagai saksi.
(mad/asy)











































