"Survei ini sangat aneh. Megawati itu tokoh, orang sampai Papua tahu siapa dia, sama seperti Soekarno," kata Bursah yang menghadiri rilis hasil survei di Hotel Four Seasons, Jakarta, Rabu (26/10/2011).
Survei SSS menempatkan Prabowo Subianto di tempat teratas dengan angka 28%, kemudian disusul Mahfud MD (10,6%), Sri Mulyani Indrawati (7,4%), Aburizal Bakrie (6,8%), KH Said Agil Siradj (6%) dan Din Syamsuddin. Megawati justru berada pada posisi bawah dengan perolehan 0,3%, di bawah Dahlan Iskan (0,4 persen) namun di atas Chairul Tanjung (0,2%).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bursah mengatakan, setiap hasil survei yang dirilis ke publik tidak lepas dari kepentingan tertentu. Dia menyarankan, boleh-boleh saja menempatkan seseorang sebagai kandidat, namun tidak boleh menafikan yang lain.
"Kalau seperti ini, tendensius namanya," gugat Bursah.
Budayawan, Radhar Panca Dahana, yang menjadi penanggap hasil survei, mengatakan, perbedaan hasil survei dengan tema dan waktu pelaksanaan yang relatif sama, menunjukkan hasil survei tidak bisa dijadikan indikator akademik yang netral.
"Ini membuktikan survei tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri," kata Radhar menambahkan survei juga rawan dari kepentingan pemodal.
Pemapar survei, Ari Nurcahyo, menjelaskan riset yang dilakukan pihaknya sepenuhnya didanai oleh Soegeng Sarjadi Foundation. "Dari hasil profit usaha beliau (Soegeng Sarjadi)," ujar Nurcahyo.
(lrn/lh)











































