"Anggaran 20 persen untuk pendidikan itu hasilnya untuk orang dan pengetahuan (di sekolah). Padahal muara pengetahuan itu juga dari riset dan teknologi. Ristek dan Dikbud seharusnya bersinergi. Kalau sekarang ini saya lihat masing-masing kementerian dan lembaga masih posesif," kata profesor riset dari LIPI, Prof Dr Ir Jan Sopaheluwakan, dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (26/10/2011).
Terkadang memang ada kerja sama penelitian, namun untuk Kemendikbudnas, penelitian bukanlah yang utama. Karena itu Jan berharap pemerintah lebih serius memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menyediakan manusia dan mendidik ilmuwannya secara berkesinambungan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Peneliti itu seperti akar, nggak kelihatan karena tertanam dalam tanah. Bagaimana buah akan baik kalau akarnya dibiarkan keropos. Orang hanya mau lihat buahnya saja, sementara yang di dalam tanah dibiarkan. Ada yang keliru di bangsa ini, yang menginginkan segala sesuatu itu cepat," tutur pakar ilmu kebumian ini.
Jan juga mengakui riset selama ini masih berjalan tanpa koordinasi. Hal itu lebih dikarenakan adanya ego sektoral. Koordinasi penelitian di 7 lembaga penelitian non-departemen pun masih sulit kendati beberapa kali dilakukan kerja sama. Dewan Riset Nasional hanya menjadi pemikir dan bukan eksekutor sehingga soal iptek masih dirasa sebatas retorika. Janji memperhatikan peneliti dan penelitian pun lebih kerap dirasa seperti buaian semata.
Dari 6 Presiden yang telah memimpin Indonesia, menurut Jan, Soekarno yang lebih peduli pada penelitian. Tanah untuk LIPI di Cibinong dan Jalan Gatot Subroto merupakan upaya dari Presiden Soekarno. Di zaman presiden pertama RI itu, LIPI ditempatkan di gedung sebelah Lemhannas, yang sekarang menjadi gedung perpustakaan nasional.
"Namun ini mulai rusak saat Orde Baru yang pragmatis," keluh Jan.
Namun setidaknya di era Presiden Soeharto masih lebih baik. Setiap beberapa bulan sekali, Kepala LIPI bersama jajarannya diundang ke Istana atau ke kediaman presiden untuk audiensi. Namun setelah reformasi, audiensi jajaran LIPI dengan presiden menjadi sesuatu yang sangat 'mahal'.
"Seharusnya lembaga penelitian negara itu memberi laporan langsung ke presiden. Dulu Pak Umar (eks Kepala LIPI Umar Anggara Jenie) sepertinya belum pernah menghadap presiden. Saya terakhir diajak bertemu Gus Dur. Semakin ke sini, semuanya sibuk sama politik," tutur Jan.
Dia merasa, pemimpin negeri ini tidak beranggapan penelitian merupakan sesuatu yang sepenting isu-isu politik. "Cuma diukur dari citra, penampilan, bobot politik, bobot anggaran," kritik Jan.
(vit/fay)











































