Soegeng Sarjadi Syndicate, Rabu (26/10/2011), merilis hasil surveinya yang menempatkan Prabowo Subianto pada posisi teratas daftar calon presiden 2014. Sebaliknya, nama Megawati Soekarnoputri yang menjadi saingan Prabowo dalam beberapa survei, justru menghilang.
Prabowo unggul dengan angka 28 persen, kemudian disusul Mahfud MD 10,6 persen, Sri Mulyani Indrawati 7,4 persen, Aburizal Bakrie 6,8 persen, KH Said Agil Siradj 6 persen dan Din Syamsuddin 5,2 persen. Megawati justru berada pada posisi bawah yakni 0,3 persen, di bawah Dahlan Iskan (0,4 persen) atau di atas Chairul Tanjung (0,2 persen).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam survei Jaringan Suara Indonesia (JSI) yang dirilis Minggu (23/10), nama Megawati berada di puncak dengan 23,8 persen, dan disusul Prabowo Subianto 17,6 persen, kemudian Aburizal Bakrie 13,7 persen.
Dalam pemaparannya di Hotel Four Seasons Jakarta, peneliti Ari Nurcahyo mengatakan, tingginya popularitas Prabowo disebabkan sebagian besar masyarakat masih merindukan ketegasan dan kewibawaan pemimpin. Konsep ketegasan ini diwakili oleh pilihan terhadap indikator calon berlatar belakang militer (33,8 persen).
"Gejala seperti ini boleh jadi dipicu oleh lemahnya kaderisasi dan rekrutmen kepemimpinan di kalangan politisi sipil. Selain itu, juga karena perilaku politisi yang kadang terlalu hiruk pikuk ketika membahas suatu kasus padahal hasil akhirnya tidak jelas," ujar Nurcahyo.
Nurcahyo menjelaskan tidak munculnya Megawati dalam jajaran teratas survei dikarenakan masa Ketua Umum PDI Perjuangan itu sudah lewat. Dari memori Pemilu/Pilpres 2009 yang kental diingat publik adalah Prabowo.
"Ini seperti awan yang bergerak, Megawati bergeser dan Wiranto lenyap karena sudah dua kali maju, dan yang diingat publik dari pemilu 2009 adalah Prabowo," ujarnya.
(nal/nal)










































