"Apa landasannya mereka kuat di mata publik? Mega, sorry to say, sudah dua kali tumbang di Pilpres 2004 dan 2009. Apalagi 2014, di mana Mega sudah makin senja. Sedangkan, saat 10 tahun lebih muda saja, dia nggak dipercaya publik. Apalagi sekarang?" ujar Wasekjen PD, Ramadhan Pohan, saat dihubungi wartawan, Jakarta, Rabu (26/10/2011).
Ia mengaku segan kepada Mega. Namun, masa keemasan Mega dianggap sudah berlalu. "Saya hormat sama mantan Presiden Megawati. Tapi, kalau dia memaksakan diri maju 2014, ia harus siap mengulang malu saja. Saya percaya demokrasi, saya juga yakin maju capres adalah hak asasi. Tapi, ngono yo ngono, mbok ya ojo ngono," papap dia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ical saat ini paling getol dimanja survei dan kelompok tertentu internal Golkar. Ical hanya menjadi madu bagi sekitar fanatikusnya dan juga bagi segelintir kelompok jadul. Semua mendekati dan mengelus-elusnya. Pada saat bersamaan, kelompok-kelompok pemain citra atau perusahaan citra dari perspektif luas, tahu ada 'gula' di Ical. Ya dimanfaatin sajalah," kata Ramadhan.
Menurut Ramadhan, Ical sudah paham lemahnya dukungan terhadap dirinya. "Dalam level tertentu, Ical sadar dirinya nggak bakalan dipilih mayoritas rakyat. Tapi, karena digosok-gosok terus oleh berbagai kepentingan, situasi bisa berubah. Banyak tokoh muda dan lebih menjual di Golkar. Cuma pertanyaannya, apa mereka mau dan berani? Tokoh muda Golkar, menurut saya, bakal memilih diam dan tahu diri. Artinya, mereka sadar mereka nggak punya dua ajimat, kekuasaan dan uang," kata dia.
Ramadhan yakin sekali Mega maupun Ical sulit memenangkan Pilpres 2014.
"Jadi kalau nanti pada akhirnya Mega dan Ical melenggang di 2014 ya kita maklumi saja. Asal jangan kecewa saja, jika rakyat punya bahasa dan logika sendiri yang berbeda dalam memilih pemimpinnya," kata Ramadhan.
(van/aan)











































