"Sosok Mega memiliki captive market. Mega pernah maju beberapa kali, dan pemilih loyal PDIP masih ke dia," kata peneliti politik dari Charta Politika, Yunarto Wijaya saat dihubungi detikcom, Rabu (26/10/2011).
Dari beberapa kali hasil suvei, ketika nama SBY tidak dimasukkan, Mega justru mendapat hasil lumayan, mengalahkan Prabowo dan Ical.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedang untuk Ical yang namanya muncul dalam survei Reform Institute sebagai calon yang paling unggul, Yunarto melihat hal itu wajar saja. Golkar sudah solid mendukung Ical.
"Ical dalam posisi elektabilitas meningkat. Lihat saja atribut Ical secara personal dipasang bersama Golkar, artinya branding sudah mulai dilakukan. Golkar sudah jauh-jauh hari melakukan ini," terangnya.
Sedang untuk Prabowo, lanjut Yunarto, akan semakin moncer bila benar Megawati benar tidak maju. Kuat kemungkinan, suara pemilih PDIP akan masuk ke Prabowo.
"Prabowo sudah investasi di 2009 dengan berpasangan bersama Mega. Lagipula Prabowo banyak dinilai sebagai antitesa SBY karena memiliki ketegasan. Prabowo program-programnya juga dinilai banyak dekat dengan wong cilik dan pro-rakyat," tuturnya.
(ndr/vit)











































