Pantauan detikcom, di jalur pendakian pencarian ladang ganja banyak terdapat pohon-pohon sadapan karet. Namun hasil getah dibiarkan begitu saja. Begitu juga ladang kakaw yang subur berdiri di sepanjang lereng gunung.
"Itu hanya untuk menutup kedok mereka saja agar dikira tidak ada ladang ganja di situ," jelas Wakil Bupati Madina, Dahlan Hasan Nasution, kepada detikcom, Selasa (25/10/2011)
Bagaimana tidak mengiurkan, ganja hasil panen dapat menghasilkan uang berlipat-lipat daripada menyadap karet. Dahlan mengumpamakan, satu kilo karet hasil sadapan dapat dijual seharga Rp 19 ribu rupiah kepada tengkulak. Sementara ganja dapat menghasilkan Rp 1 juta dalam setiap transaksi.
Dalam perjalanan menunju ladang ganja, rata-rata penduduk bermukim di gubuk-gubuk beratap seng. Namun jangan dikira, tidak sedikit penduduk yang memiliki lebih dari satu motor dan mobil jenis L-300 atau pick up. Pantauan detikcom, banyak warga yang memiliki 4 motor.
"Kita mencurigai hasil transaksi ganja tidak disimpan di kampung mereka, tapi di luar kampung agar tidak dicurigai mereka menghasilkan uang dari ladang ganja," tuding Dahlan.
Kepala BNN Kabupaten Madina AKBP Addy Maskuri Nasution, yang juga pernah menjabat Wakil Kapolres Madani, menuturkan ladang ganja di wilayah Madani khususnya di desa Huta Tua, Huta Bangun, dan Huta Tongah, sudah ada sejak tahun 1980-an.
"Faktor ekonomi yang menjadikan mereka memilih berladang ganja," ujar Eddy.
Selama penggerebekan yang dilakukan pihaknya yang dibantu kepolisian, baru sekali menangkap pemilik ladang ganja yang saat itu berada di tengah ladang.
"Diketahui dia adalah warga masyarakat sekitar," kata Eddy.
Menurut Direktur Penindakan dan Pengejaran BNN, Brigjen Pol Benny J Mamoto, ladang ganja di Madina, Sumatera Utara merupakan terbesar kedua setelah Aceh. Peredaran ganja bukan saja di provinsi tetangga, dan pulau Jawa.
"Kami yakini distribusi sudah sampai lintas negara," ujar mantan Direktur Narkotika Alami BNN ini.
Ke depan pihaknya akan mengintensifkan operasi guna mencegah peredaran ganja di masyarakat.
"Kita ingin mematikan sumber-sumber narkobanya. Dengan demikian dari sisi operasi jauh lebih efisien daripada terlanjur beredar di pasar. Kita hantam hulunya," tegasnya.
Ladang ganja yang telah dimusnahkan selanjutnya akan dijadikan ladang tanaman untuk menunjang ekonomi penduduk seperti penanaman karet dan kakaw yang terbilang produktif ditanam di lahan subur pegunungan Madina.
"Langkah ini dilakukan mencontoh Thailand yang berhasil menghilangkan ladang opium di wilayah segitiga emas," jelas Benny.
(ahy/her)











































