"Dari Rp 50 Juta, mereka mau ngasih Rp 25 juta. Mereka minta kasus ini dianggap selesai," ujar Syaripudin saat dihubungi detikcom, Rabu (26/10/2011).
Menurutnya, atas pemberian uang damai tersebut pihak RS Haji sebenarnya enggan untuk dipublikasikan alias meminta Syaripudin menutup mulutnya rapat-rapat. Namun Syaripudin menolaknya, menurutnya RS Haji harus bersedia diliput wartawan terkait pemberian uang tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Uang damai sebesar Rp 25 juta itu juga tidak akan digunakan secara pribadi oleh Syaripudin. Ia akan menyerahkan uang tersebut ke yayasan yatim piatu.
"Besok, RS akan menyerahkan uang itu ke saya, dan saya akan serahkan langsung di situ juga ke yayasan. Saya cuma berharap kejadian ini tidak terulang lagi. Dengan saya bicara ke media, RS Haji pasti sudah rugi banyak, makanya ke depan mereka harus lebih profesional," imbuhnya.
Sebelumnya, Syaripudin diduga menjadi korban malpraktik RS Haji. Syaripudin mengalami pendarahan bercampur nanah selama 8 bulan setelah operasi pemasangan pen di tulang kaki kanannya akibat terjatuh di kediamannya pada 1 September 2010 lalu.
Pen yang menyangga tulangnya tersebut kemudian diangkat tim dokter di Surya Husada Hospital Bali setelah Syaripudin mengalami demam tinggi dan pendarahan hebat di sela jaitan pemasangan pen.
Dokter yang mengangkat pen tersebut menduga pendarahan akibat dari pemasangan pen yang tidak steril. Dia juga terkejut saat melihat pennya sudah dalam kondisi gompal.
Namun, kata Syaripudin, dokter yang mengangkat pennya dan menyebut penyebab pendarahan akibat tidak sterilnya pen. Dokter yang diketahui bernama dr Siki Kawiana menyebut tidak menemukan ketidaksterilan dalam proses pemasangan pen saat operasi.
"Saya pahami kalau sesama dokter tidak mungkin saling menjatuhkan," ujarnya.
Atas hal itulah, Syaripudin mengancam akan melaporkan dugaan malpraktik ini ke polisi. Namun pihak RS haji segera membuka jalur damai dengan menawari Rp 25 juta kepada Syaripudin.
(her/mpr)










































