Ical Terpopuler, Golkar: Rakyat Telah Kembali ke Jalan yang Benar

Ical Terpopuler, Golkar: Rakyat Telah Kembali ke Jalan yang Benar

- detikNews
Rabu, 26 Okt 2011 03:13 WIB
Ical Terpopuler, Golkar: Rakyat Telah Kembali ke Jalan yang Benar
Jakarta - Survei yang dilakukan oleh Reform Institute menunjukkan Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie (Ical) menjadi Capres paling moncer saat ini dibanding kandidat lainnya. Golkar pun menyambut baik hasil survei tersebut.

"Ya alhamdulillah, itu artinya rakyat sudah kembali ke jalan yang benar. Karena jalan yang sekarang ini tidak karu-karuan," ujar Politisi Golkar Nudirman Munir saat dihubungi detikcom, Selasa (25/10/2011).

Menurut Nudirman, jalannya pemerintahan yang saat ini tidak memiliki road map yang jelas sebagai panduan. Hal ini berbeda ketika jaman Golkar berkuasa, dimana selalu ada road map sebagai garis kebijakan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau dulu kan jelas ada Pelita, ada Repelita dan ada GBHN. Itu semua jadi acuan kita, tetapi sekarang apa? Sekarang ini tidak karu-karuan, jalannya kebijakan akan seperti apa, tidak ada yang jelas," terang anggota Komisi III DPR ini.

Nama Aburizal Bakrie disebut-sebut sebagai salah satu calon presiden pada Pilpres 2014 mendatang. Survei Reform Institute menunjukkan Ketua Umum Golkar ini lebih moncer ketimbang Ibu Negara Ani Yudhoyono.

Survei yang dilakukan lembaga ini dengan melibatkan 2.010 responden dari seluruh Indonesia ini Aburizal Bakrie alias Ical menjadi tokoh yang paling dikenal jika pilpres dilaksanakan sekarang. Dari 25 nama capres yang disurvei, responden yang memilih Ical sebanyak 13,58 persen. Urutan kedua diduduki Prabowo Subianto 8,46 persen, kemudian mantan Wapres Jusuf Kalla 7,06 persen, Hidayat Nur Wahid 5,17 persen dan Ani Yudhoyono 4,13 persen.

"Ical dipilih karena masyarakat bisa melihat posternya di mana-mana dan juga program-programnya. Selain itu yang punya tiket kan Golar dan dia juga dicalonkan, jadi masyarakat tidak punya pilihan lain," kata Direktur Pengembangan Reform Institute Abdul Hamid di kantornya, Pancoran, Jakarta Selatan.

Abdul mengatakan, tidak memasukkan nama Megawati dalam survei tersebut karena Mega sudah dua kali maju sebgai calon presiden dan gagal. "Selain itu ada semangat dari PDIP untuk majukan calon muda dan kita ingin cek kemana larinya suara Mega," imbuhnya.


(her/mpr)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads