Calon Independen Jaring Suara Golput di Pemilukada DKI

Calon Independen Jaring Suara Golput di Pemilukada DKI

- detikNews
Selasa, 25 Okt 2011 18:53 WIB
Jakarta - Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, masih populer di mata masyarakat. Jika maju lagi di Pemilukada DKI, Fauzi perlu mewaspadai munculnya calon independen. Sebab calon independen ini berpotensi mewadahi suara golput pemilukada sebelumnya.

"Popularitas Fauzi Bowo memang berkorelasi positif dengan tingkat pemilihan ke dia. Namun melihat pemilukada di berbagai daerah, suara calon incumbent yang didukung parpol semakin turun karena kekecewaan pada parpol," kata pengamat politik dari UGM Arie Sudjito dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (25/10/2011).

Kekecewaan pada parpol muncul lantaran politisi yang duduk di kursi anggota Dewan ada yang tersangkut masalah hukum. "Ini kesempatan bagi calon independen yang bisa memberi jawaban atas kekecewaan pada parpol dan bisa mewadahi golput," imbuh dia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Konsep calon independen berbeda dengan calon dari partai. Calon ini tidak semata non-partai tetapi juga memiliki model kampanye yang cenderung berbeda.

"Misalnya ada calon yang mendapat dukungan dana dari warga. Ada yang menyumbang Rp 100 ribu, Rp 50 ribu. Ini penyumbang sukarela. Ini sebenarnya seperti cara yang dilakukan Barack Obama saat akan menjadi presiden. Pemilih dijadikan sebagai subyek," tutur Arie.

Calon independen,lanjutnya, bisa menjadi instrumen untuk memperbaiki demokrasi. Meski memang kerja calon independen tidak gampang, utamanya terkait masalah administrasi di KPUD.

"Harus bisa kumpulkan 400 KTP kan bukan perkara gampang. Tapi kalau kerja keras, pasti bisa. Golput itu sebenarnya tamparan bagi parpol. Kalau bebal, angka golput ini akan meningkat," sambungnya.

Arie khawatir kepala daerah mulai mengikuti gaya Presiden SBY yang menerapkan politik pencitraan. Masalah yang ada tidak benar-benar terselesaikan karena hanya sekadar 'lipstik'. Untuk itu, debat calon kepala daerah harus banyak digelar agar publik tahu visi, misi dan pengetahuan para calon kepala daerah yang akan dipilihnya.

"Jakarta kan barometer, jadi bisa dicontoh daerah-daerah lainnya. Kalau Jakarta berhasil,nanti akan diikuti daerah lainnya," kata Arie.

Berdasar hasil survei dari Median Survei Nasional dan The Future Institute pada 845 orang masyarakat Jakarta, akhir September, popularitas Fauzi berada di angka 54,7 persen. Sedangkan popularitas Tantowi Yahya 91,5 persen, Triwisaksana 37,4 persen, Faisal Basri 36,8 persen, Nachrowi Ramli 24,8 persen dan Prya Ramadhani 24,5 persen. Faisal Basri berencana maju dari kalangan calon independen.

(vit/ken)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads