Menurut pria kelahiran Tegal, Jawa Tengah ini, ada lima hal yang menjadi indikasi hilangnya legitimasi SBY. "Pertama, karena SBY mulai didemo," ucap Fuad dalam bedah buku bertajuk 'Pilpres Abal-abal Republik Amburadul' di Gedung DPD, Senayan, Jakarta, Selasa (25/10/2011).
Indikasi kedua, tokoh agama yang biasanya diam saja mulai protes keras. Ketiga, media-media massa sudah menyudutkan SBY dengan berita-beritanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan indikasi kelima adalah mulai banyaknya hasil-hasil survei yang menunjukkan masyarakat tidak puas terhadap pemerintah. "Korupsi terbesar di Indonesia terjadi pada masa pemerintahan SBY," ucapnya.
Penulis lainnya di buku tersebut adalah Mayjen TNI (Purn) Saurip Kadi. Di hadapan sekitar 80 orang yang hadir dalam diskusi tersebut, dia mengaku sudah lelah dengan keadaan sekarang sehingga ingin mendobraknya.
"Buku ini sebagai cara untuk mengingatkan SBY agar tidak berakhir tragis seperti Khadafi. Sumber masalah republik ini adalah Presiden SBY. Korupsi kecil hukumannya lebih besar daripada korupsi besar yang sistemik dan terencana," tutur Saurip.
Sementara itu, Menteri Ekonomi era Gus Dur Rizal Ramli yang juga menulis buku itu menyatakan kekecewaannya. Sebab banyak kasus yang tidak bisa diselesaikan dan terjadi pada masa pemerintahan SBY.
"Contohnya kasus Antasari dan Bank Century. Kami minta agar SBY mundur secara baik-baik. Indonesia sekarang ini ada demokrasi, tapi tidak ada hukumnya," ujar Rizal.
Buku 'Pilpres Abal-abal Republik Amburadul' ditulis oleh 40 orang. Buku 432 halaman itu berisi suara para penulis yang mengkritik pemerintahan SBY-Boediono. Bertindak sebagai moderator dalam bedah buku sore itu adalah artis yang pernah mencoret-coret Gedung DPR, Pong Harjatmo.
(vit/fay)











































