FBI Gagal Beritahu Australia Sebelum Tragedi Bom Bali
Selasa, 13 Jul 2004 12:46 WIB
Jakarta - Biro Investigasi Federal AS alias FBI mengakui bahwa pihaknya telah menerima peringatan akan kemungkinan serangan teroris di Indonesia sebelum terjadinya tragedi bom Bali. Namun FBI tidak segera memberitahukan Australia.Kepada program "Lateline" stasiun televisi ABC, FBI menyatakan bahwa pihaknya memperoleh informasi itu dari hasil interogasi tersangka al Qaeda, Mohommad Mansour Jabara, sebelum peristiwa serangan bom Bali 12 Oktober 2002 lalu.Pada Januari 2002, Jabara bertemu dengan Hambali yang dituduh sebagai dalang bom Bali. Hambali mengatakan pada Jabara bahwa dirinya ingin menyerang warga Barat di target-target lunak seperti bar dan kelab malam di beberapa negara Asia Tenggara.Dalam interogasi dengan FBI, Agustus tahun yang sama, Jabara mengatakan kepada FBI tentang niat Hambali tersebut. Informasi ini kemudian diteruskan FBI ke sejumlah negara di wilayah Asia. Namun Australia tidak diberitahu karena tidak ada ancaman spesifik terhadap negeri itu."Informasi yang didapat dari interogasi Mr Jabara diteruskan ke Departemen Luar Negeri AS, yang kemudian menyampaikan informasi itu ke berbagai negara yang diyakini menjadi potensial target serangan teroris di Asia Tenggara," demikian FBI."Informasi ini tidak mengindikasikan ancaman spesifik terhadap Australia, dan disampaikan untuk negara-negara yang dianggap berisiko akan serangan teroris," ujar FBI seperti dilansir News.com.au, Selasa (13/7/2004).Sebelumnya, Dirjen ASIO atau Organisasi Intelijen Keamanan Australia, Dennis Richardson mengatakan pada sebuah komite Senat, bahwa Australia tidak diberitahu mengenai keterangan Jabara tersebut sampai setelah tragedi bom Bali terjadi.Namun menurut Richardson, informasi itu hanya akan membuat sedikit perbedaan dalam respons pemerintah Australia menjelang pemboman yang menewaskan ratusan orang, yang sebagian besar warga Australia itu.
(ita/)











































