"Ladang ganja di Mandailing Natal ini nomor 2 terbesar setelah Aceh," kata Direktur Penindakan dan Pengejaran BNN, Brigjen Pol Benny Mamoto, di lokasi pengungkapan, Senin (24/10).
Dalam pengungkapan BNN sedikitnya menurunkan 45 tim buru sergap BNN dibantu tim Brimob Kelapa Dua Mabes Polri bersenjata lengkap, 53 tim Polda Sumut dan Polres Madina, dan instansi terkait lainnya seperti TNI, BNN Kabupaten.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari lokasi pengungkapan terdapat beberapa pohon ganja setinggi 180 centimeter dan 50 centimete. "Ada juga bekas sisa panen yang ditemukan," ujar Benny.
Benny mengatakan, kualitas ganja dari 7 ladang yang ditemukan secara kualitas masih kalah dengan produksi ganja Aceh. Dengan jumlah produksi besar setelah Aceh, ganja tersebut mampu didistribusikan sepanjang Sumatra dan Jakarta.
"Kami yakini distribusi sudah sampai lintas negara," ujarnya.
Benny menambahkan, dari informasi yang dikolola BNN, ladang ganja di lokasi pengungkapan sudah mulai ada sejak tahun 1980an.
"Tahun 80an ternyata sudah ada ladang (ganja) di sini. Jadi, sudah turun temurun," ujarnya.
Bila pemusnahan tidak segera dilakukan, imbuhnya, masyarakat dikhawatirkan akan nekat berladang ganja apalagi ganja menjanjikan hasil lebih besar ketimbang tanaman lain yang dapat menunjang kehidupan masyarakat dan berpotensi berhadapan dengan hukum.
Walaupun tidak menemukan empunya ladang, BNN optimis dengan pengungkapan sekaligus pemusnahan di tempat tanaman ganja, dapat menekan jumlah peredaran ganja di masyarakat.
"Kita ingin mematikan sumber-sumber narkobanya. Dengan demikian dari sisi operasi jauh lebih efisien daripada terlanjur beredar di pasar. Kita hantam hulunya," tegas mantan Direktur Narkotika Alami BNN ini.
"Kita terus akan memburu ladang-ladang ganja seperti ini di manapun di wilayah Indonesia untuk kita tumpas," imbuhnya.
(ahy/gah)











































