Namun jika connecting flight kita di kisaran berjam-jam, tak ada salahnya melongok ke luar bandara dan melangkah ke jantung kota Frankfurt.
Kebetulan, penulis mendarat di bandara internasional Frankfurt sekitar pukul 07.00 pagi. Hanya saja jangan bayangkan pagi di kota terbesar di negara bagian Hessen di Jerman ini layaknya Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun dingin yang menusuk tulang ini tak menghentikan hasrat penulis yang sejatinya ingin berlabuh ke Jenewa, Swiss, untuk menghadiri acara ITU Telecom World 2011, untuk melongok sejenak kota Frankfurt.
Hingga pada akhirnya setelah beberapa kali bertanya ke warga lokal akhirnya tujuan pun ditetapkan, yakni menuju Hauptwache. Derap langkah pun berlanjut mengarah ke bagian basement untuk mencari transportasi publik, kereta.
Untuk sampai ke Hauptwache dari bandara tak butuh waktu lama, cuma sekitar 10 menit. Atau jika sulit mengingat kosakata Jerman, stasiun Hauptwache berada lima stasiun dari bandara. Adapun tiketnya 3,9 euro untuk sekali jalan.
Warga lokal yang ditemui penulis mengatakan bahwa Hauptwache merupakan jantungnya kota Frakfurt. Lokasi ini juga menjadi target utama para pelancong ketika berwisata ke kota perdagangan di Jerman itu.
Dan benar saja, ketika penulis tiba, berbagai sudut pandang yang ditemui mampu menarik perhatian. Mulai dari deretan kafe, toko dan pusat perbelanjaan untuk memenuhi hasrat memborong, museum, hingga bangunan tradisional khas Negeri Uber Alas.
Bahkan bersebelahan kemudian, Anda dapat menemui jembatan yang membelah sungai Main. Sungai ini pun dapat dilalui oleh kapal-kapal pengangkut barang hingga yang ingin menuju pedalaman Jerman. Termasuk di antaranya kapal wisata bagi para pelancong.
Di sekitar jembatan ternyata juga menjadi tempat favorit warga lokal untuk berolahraga. Ya, meski dinginnya udara bisa membuat telinga sakit, mereka tetap bersemangat untuk sekadar joging atau bersepeda. Sekadar catatan, jangan lupa mengenakan jaket, sarung tangan, dan penutup kepala (kupluk).
Memasuki pukul 10 pagi, sinar matahari akhirnya memancarkan senyumnya ke kota Frankfurt. Dan setelah bersantai sembari menyeruput minuman hangat, penulis pun bergegas untuk kembali ke airport.
Begitulah wisata kilat yang dilakoni penulis lantaran cuma menghabiskan waktu sekitar dua jam di kota Frankfurt. Tetapi setidaknya rasa penasaran akan seperti apa kota yang sering disebut sebagai ibukota Jerman yang non de facto ini sudah sedikit terpenuhi.
(ash/mad)











































